MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Pelajaran dari sejarah kekalahan April 10, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:
n1516873645_128787_4438Hudzaifah.org – Laki-laki pemberani itu terbujur kaku dengan dada tercabik-cabik. Sadis. Itulah jasad Hamzah bin Abdul Muththalib, paman dan saudara sepersusuan Rasulullah Saw yang syahid dalam Perang Uhud. Tangis Rasulullah Saw pun pecah. Isak tangisnya terdengar seperti rintihan. Walaupun dengan kesedihan yang tiada terkatakan, akhirnya, jenazah “Tuan Para Syuhada” itu dikafankan dengan kafan yang tidak sampai menutup kedua kakinya, lalu dikuburkan bersama saudara sepupu dan sepersusuannya, Abdullah bin Jahsyi, dalam satu liang.

“Tidak pernah beliau terlihat sedih sesedih itu. Tidak juga pernah terlihat beliau menangis sekeras itu,” kata Ibnu Mas’ud. Panorama para syuhada itu memang sangat mengiris hati. Di sana terbaring 65 orang sahabat beliau dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan seorang dari kaum Yahudi yang telah memeluk Islam. Angka 70 orang syuhada itu terlalu banyak. Bandingkanlah dengan syuhada Badar yang hanya berjumlah 14 orang, atau dengan jumlah korban tewas dari kaum Musyrikin yang hanya berjumlah 37 orang.

Mungkin, memang tidak tepat menyebut peristiwa itu sebagai kekalahan, setidak-tidaknya jika dilihat dengan lensa keimanan. Akan tetapi, biarlah dalam hitungan peperangan kita menganggap itu sebagai sebuah kekalahan. Itulah yang membuat Rasulullah Saw begitu terpukul, begitu sedih, sampai beliau menangis tersedu-sedu; sebuah tangis yang tidak pernah diulanginya sepanjang hidupnya. Bahkan, beberapa hari sebelum beliau wafat, beliau menyempatkan diri mengunjungi kuburan para syuhada Uhud. Para sahabat yang menyaksikan kesedihan beliau itu merasakan kesedihan yang lebih mendalam, sekaligus diliputi perasaan bersalah yang mengguncang batin mereka.

Kekalahan yang Mengilhami

Meskipun demikian, Allah Swt tidak menginginkan mereka berlarut dalam kesedihan. Memang kesedihan adalah tabiat hati dan hak jiwa, tetapi selalu ada batas yang wajar untuk sebuah emosi. Maka, di tengah deraan kesedihan itulah Allah Swt menurunkan bimbingan-Nya. Itulah salah satu cara Allah Swt memberikan pelajaran: peristiwa kehidupan adalah momentum yang paling tepat untuk mengajarkan nilai-nilai atau kaidah-kaidah tertentu, dan bahwa sejumlah nilai atau kaidah tertentu hanya dapat dipahami dengan baik melalui peristiwa nyata dalam kehidupan.

Maka, berbicaralah Allah SWT tentang peperangan Uhud itu dalam 60 ayat, yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran dan dimulai dari ayat 121 hingga ayat 179. Penjelasan itu diawali dengan sebuah rekonstruksi yang menjelaskan latar belakang psikohistoris Perang Uhud (ayat 121) dan diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut (ayat 179). Allah SWT mengatakan,

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)

Dalam runtut penjelasan panjang itu, Allah Swt hendak mengajarkan kaum Muslimin cara yang tepat untuk menghadapi dan menyikapi kekalahan. Bahwasanya, bencana yang lebih besar dari kekalahan adalah apabila kita kehilangan kemampuan menentukan sikap dalam menghadapi kekalahan itu sendiri.

Pelajaran pertama. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mempertahankan keseimbangan jiwa manakala kekalahan itu datang. Kekalahan, dalam berbagai medan kehidupan, sangat sering melumpuhkan, bahkan mematikan ketahanan jiwa dan semangat perlawanan seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Itulah ancaman paling berbahaya yang menimpa orang-orang yang kalah: tiba-tiba mereka kehilangan rasa percaya diri, kehilangan semangat untuk tetap bertahan dan terus melawan, kehilangan harapan dan optimisme; tiba-tiba saja dunia ini menjadi gelap dan kabut keputusasaan menutupi seluruh langit jiwanya. Tidak ada lagi harapan bahwa esok hari akan berganti dan matahari akan terbit kembali. Itulah saat yang paling sublim dalam kehidupan individu atau kelompok, yang dalam hal ini kita harus mampu mengelola perasaan dengan cara yang sangat rumit: kita harus mengakui kekalahan secara obyektif namun tetap memiliki energi jiwa agar survive, bertahan, dan bangkit kembali.

Untuk itu, kita membutuhkan sebuah mizan: sebuah alat atau standar untuk mengukur tingkat supremasi yang sesungguhnya. Mizan yang kemudian ditetapkan Allah Swt adalah iman: bahwa kemenangan dan kekalahan bukanlah ukuran supremasi dan keunggulan; bahwa kemenangan dan kekalahan hanyalah sebuah variabel yang dengannya Allah Swt menguji kita tentang apakah kita tetap bisa beriman dalam kedua situasi itu. Maka, jangan ada kesedihan yang berlebihan dan jangan ada perasan lemah dan tidak berdaya yang akan mematikan semangat perlawanan. Allah Swt berfirman,

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 139)

Pelajaran kedua. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mengetahui kalau kemenangan dan kekalahan itu sesungguhnya bukanlah situasi yang permanen (tetap). Kemenangan dan kekalahan adalah piala yang dipergilirkan oleh sejarah di antara semua umat. Maka, tidak ada umat yang dapat memenangkan semua babak pertarungan, juga tidak ada umat yang ditakdirkan untuk kalah selama-lamanya.

Kemenangan dan kekalahan, sesungguhnya hanyalah sebuah variabel yang menjalankan sebuah fungsi: seleksi. Penyebabnya, andaikan kaum Muslimin menang terus, kata Ibnu Qayyim, maka akan banyak orang yang bergabung dengan kaum Muslimin meskipun mereka tidak benar-benar beriman. Ditambah lagi, andaikan kaum Muslimin kalah terus, maka misi risalah kenabian tentulah tidak akan tercapai.

Begitulah akhirnya, dalam putaran kemenangan dan kekalahan, Allah Swt menyeleksi orang-orang beriman dari orang-orang munafik. Demikian pula dalam putaran kemenangan dan kekalahan, Allah Swt menyingkap tabir pikiran dan jiwa setiap orang: maka semua yang terekam dalam pikiran dan tersimpan dalam jiwa akan tampak nyata di depan mata manakala peristiwa-peristiwa kehidupan memaksanya keluar menjadi tindakan. Allah Swt berfirman,

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (Ali ‘Imran: 140-141)

Pelajaran ketiga. Untuk orang-orang kalah, kemenangan dan kekalahan sesungguhnya merupakan fenomena yang diatur oleh sebuah kaidah. Maka, setiap umat mempunyai hak untuk menang jika mereka memenuhi syarat-syarat kemenangan. Setiap umat pasti kalah jika sebab-sebab kekalahan itu ada dalam diri mereka. Kemenangan dan kekalahan bukanlah nasib yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya. Maka, hal penting bagi mereka yang kalah adalah menemukan penjelasan yang tepat tentang mengapa mereka kalah, bukan melukiskan kekalahan itu secara dramatis, romantis, dan melankolis. Untuk itulah, dibutuhkan keberanian untuk melihat ke dalam lebih banyak, bukan menengok keluar dan melaknat musuh.

Oleh karena itu pula dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesediaan dan tekad yang kuat untuk memperbaiki diri serta memenuhi syarat-syarat kemenangan. Begitulah, Allah SWT kemudian menjadikan sejarah manusia sebagai referensi yang dapat mempertemukan kita dengan syarat-syarat kemenangan atau sebab-sebab kekalahan tersebut. Allah SWT berfirman,

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 138-139)

Jatuh Bangun dalam Ruang Sejarah

Melalui kasus mikro Perang Uhud itu, Allah Swt menetapkan kaidah-kaidah makro yang kemudian mengatur jalannya sejarah manusia. Peristiwa kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan adalah sama dengan peristiwa kebangunan dan keruntuhan dalam perjalanan sejarah. Dengan demikian, apabila ada kaidah yang mengatur kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan, maka ada pula kaidah yang mengatur kebangunan dan keruntuhan setiap umat dan bangsa. Ibarat sunah-sunah yang menjelaskan mekanisme kerja alam raya, seperti itu pulalah kaidah-kaidah tersebut mengatur jalannya sejarah manusia.

Kaidah-kaidah itu adalah buah yang dapat kita petik dari pohon sejarah. Itulah sebabnya, sejarah menjadi salah satu referensi pembelajaran terpenting dalam al-Qur’an. Jika kita membuka lembaran ayat-ayat al-Qur’an, kita akan mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya sejarah adalah tema pokok yang memenuhi ruang terbanyak dalam al-Qur’an. Yang ingin diajarkan al-Qur’an di balik itu adalah bahwa umat ini hanya akan bangkit mencapai kejayaannya apabila ia mengikuti kaidah-kaidah kebangunan tersebut. Sebaliknya, umat ini selamanya akan terpuruk dalam kehancuran manakala ia memenuhi semua kelayakan untuk jatuh dan runtuh.

Demikianlah, bila kemudian kita membaca sejarah Baghdad sebelum dibumihanguskan oleh tentara Tartar, di bawah pimpinan Jenghis Khan, niscaya kita akan membenarkan ungkapan Ibnul Atsir, “Orang-orang Islam ketika itu hidup seperti orang-orang jahiliyah; mimpi-mimpi mereka tidak pernah melampaui perut dan kemaluan mereka.” Sama halnya apabila kita membaca bagaimana Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan al-Aqsha yang dijajah Kaum Salib selama sembilan puluh tahun, niscaya kita akan membenarkan pendapat Dr Majid Irsan al-Kailani, yang mengatakan bahwa generasi Shalahuddin al-Ayyubi sebenarnya hanyalah hasil dari sebuah kerja dakwah dan tarbiyah (pembinaan) yang panjang, yang telah berlangsung lebih dari lima puluh tahun sebelum itu.

Inilah Pertanyaannya

Sekarang, gaung kebangkitan Islam telah menggema di seluruh pelosok negeri, bahkan dunia: generasi baru Islam telah bangun mengumandangkan azan subuh, dan fajar shadiq telah merekah di ufuk timur.

Namun, sejarah tetap menyisakan satu pertanyaan sederhana yang pernah dilontarkan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna, “Saya percaya, saudaraku tercinta, bahwa setiap revolusi sejarah dan setiap kebangkitan pada sebuah umat, berjalan menurut hukum ini, bahkan termasuk kebangkitan agama-agama yang dipimpin para nabi dan rasul-shalawat dan salam untuk mereka semua….” Inilah ucapan yang akan disikapi oleh pembaca dengan dua sikap: sebagian mereka mungkin telah mempelajari sejarah dan tahapan kebangkitan setiap umat sehingga mereka percaya pada kaidah ini, sementara sebagian yang lain belum mempelajari sejarah sehingga sebaiknya mereka mempelajarinya supaya mereka percaya bahwa apa yang saya katakan adalah benar.

Mereka harus percaya karena saya hanya menginginkan perbaikan dalam batas kemampuan saya. Itulah yang terjadi pada setiap kebangkitan yang sukses. Sekarang, apakah kebangkitan kita telah berjalan di atas rel hukum alam dan kaidah sosial ini?

___
Oleh: M Anis Matta

Advertisements
 

Menang! April 9, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:

 

12nkijuuuDiatas dan di bawah, dikuasai dan menguasai adalah faktor giliran semata. “Wa tilkal ayamu nudawiluha bainannas”.

Tapi, menang-kalah bukanlah faktor giliran. Tak ada kalah dalam kamus perjuangan seorang mujahid dakwah ilaallah. Ketika seorang muslim berjuang kalimatullah hiya ulya, maka hari-harinya akan terisi oleh kemenangan. Kemarin, hari ini, dan esok adalah kemenangan. Boleh jadi dia luka, di-asing-kan, atau bahkan terbunuh.

Lukanya akan menjadi saksi. Lukanya adalah bintang seperti emblem penghargaan di baju seorang jenderal. Pengasingan adalah pariwisatanya. Pengasingan adalah penyebaran dakwah. Terbunuhnya adalah penghargaan tertinggi, syahid. Disitu dia mendapat kemuliaan, kemuliaan dan surganya.

Umat Islam memiliki sejarah kemenangan yang panjang. Deretan orang-orang perkasa. Pionir dan pembuka daerah. Begitu banyaknya deretan pahlawan, sehingga tak perlu lagi menciptakan tokoh imajinasi atau animasi seperti, Superman, Spiderman atau Batman.

Lihat bagaimana sosok Khalid bin Walid yang tak pernah kalah. Pasukan kecil yang mampu mengalahkan pasukan besar. Baik segi peralatan maupun jumlah. Panglima perang semuda Usamah. Strategi perang dan keberanian Al-Fatih sang penakluk Eropa. Wali Songo mengatur kekuasaan dalam bentuk kerajaan. Hingga Diponegoro yang berjuluk, Amirulmukminin Panotogomo Khalifatullah Tanah Jawi.

Perang Diponegoro sering disebut Perang Jawa. Waktu itu yang menjabat Gubernur Belanda adalah Herman Willem Daendels. Belanda baru saja dikalahkan Napoleon Bonaparte Prancis. Kemudian Inggris berhasil memukul balik lewat Stanford Raffless. Jangan ditanya siapa yang paling kejam: Inggris, Prancis, atau Belanda.

Sebuah naskah Dr. Simuh dari UIN Yogyakarta mengabarkan bahwa Diponegoro mendapat bantuan dan assitensi perang dari Khalifah Turki Utsmani. Kita rindu seperti sajak Chairil Anwar:
Kami rindu kan Tuan
dengan keris di kiri dan berselempang jihad yang tak pernah mati.

Tak mungkin mengalahkan lewat fisik, akhirnya menempuh jalur licik. Diponegoro dibuang ke Tondano. Tapi siapa bisa mengalahkan semangat. Agama menurut orang jawa dalam bahasa kromo inggil adalah agomo. Tapi, dalam tata krama Kromo Hinggil, agama adalah Ageman. Yang harus dipakai. Agama adalah pakaian. Anda bayangkan manusia sehari saja tanpa pakaian? Maka dakwah pun menyebar ke Tondano. Jejak itu jelas terpatri pada kaum Jaton. Jawa Tondano.

Hingga dakwah berlanjut ke masa perebutan kekuasaan antara kaum muslimin dengan penjajah Belanda yang kafir. Ke masa Samanhudi, Tjokroaminoto dan Agus Salim. Pertarungan ideologi terus berlanjut. Hingga ke konsep negara. Laboratorium dakwah sudah pernah mencoba lewat jalur kekuasaan dengan cara militer seperti dijalankan oleh Darul Islam. Lewat jalur parlemen oleh Muhammad Natsir.

Begitulah lembar sejarah mengajarkan: kita adalah barisan orang-orang menang, tidak pernah kalah dan tidak mau mengalah. Meski dipecundangi di era Orla dan ditekan di era Orba, aktivis Islam terus mencari ruangnya. Maka dakwah bawah tanah pun menjadi pilihan.

Era Tanzhimi dilewati berlanjut ke Mihwar Sya’bi. Akhirnya era reformasi menjemput. Duhai kemanakah akal raksasa hati sekeras baja dan langkah perkasa yang tak goyah oleh kilatan pedang, uang dan goyangan perempuan?

Gerakan Islam sempat terjeda oleh isu terorisme. Perang Gaza kembali menyadarkan dunia, bahwa umat Islam tak bisa dikalahkan dengan fisik. Tokh, meski umat Islam seperti anak ayam kehilangan induk. Meski seperti hidangan diatas nampan. Umat Islam tetap tak bisa ditaklukkan. Selalu ada yang melawan.

Meski antar umat Islam sendiri saling cakar-cakaran. Karena masing-masing memiliki kepentingan. Di pentas politik ada Arab Saudi, Mesir, Iran dan Libya yang berebut kepentingan. Di Indonesia masih bingung antara memilih demokrasi sebagai sarana dan menolak sama sekali.

Namun bagi aktivis dakwah sejati, tak ada kamus cuti apalagi kalah. Bisa jadi saat ini dia mendapat cemooh atau hinaan. Bahkan sangat mungkin barisannya compang-camping. Tapi, dakwah akan tetap berjalan. Hingga menemui masa kematangan dan bisa dipetik untuk dinikmati. Saat itulah manusia akan berbondong-bondong kembali masuk ke barisan dakwah.

Dunia saat ini menunggu siapakah yang akan menjadi juru bicara. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar sangat mungkin. Persoalannya adalah negara ini juga memiliki ranking di bidang korupsi dan kemalasan. Inilah yang mengganggu kepercayaan itu.

Maka, masuk ke sebuah barisan yang kokoh dan didalamnya tak henti dengan tausyiah menjadi keharusan. Uzlah belum menjadi pilihan. Berdiri kokoh dalam barisan dan jangan keluar dari medan pertarungan. Maka masuk ke dalam sistem itu, kemudian berputar kencang. Tentu sistem itu akan membawanya ke tempat yang kita tuju.

Hari demi hari Allah pergilirkan. Setelah Barat berkuasa maka pandanglah ke timur. Barat adalah tempat matahari terbenam. Dipenuhi warna abu-abu sebelum gelap. Gelap adalah tempat para setan dan kejahatan mencuri kesempatan.

Sedangkan Timur adalah tempat matahari terbit. Bening embun adalah harapan dari kepingan hati yang tak lelah berdoa. Setitik cahaya akan muncul sebelum akhirnya terang benderang. Saat itu orang yang dulu mencibir akan kembali berbondong-bondong masuk kembali ke barisan dakwah.

Supaya Anda mendapat posisi di dalam barisan. Janganlah Anda bertanya, apakah bagian yang saya terima? Tapi berilah, berkontribusilah. Meski itu hanya sebuah senyuman. Karena tak hanya Anda seorang dunia sedang manunggu. Siapakah juru bicara umat Islam?

Maka pandanglah ke timur.

sumber: sabili

 

kiat mengubah bangsa,mulai dari diri sendiri,mulai dari yang paling kecil,mulai saat ini juga! April 8, 2009

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:

 

hakpilihpemilu2009Saat- saat yang dinantikan akan segera tiba,dimana lebih dari 200 juta penduduk Indonesia akan mengukir kembali sejarah baru berupa pemilihan para pemimpin baru baik di DPR maupun Presiden.Betapa kita sering mengeluhkan kondisi bangsa kita yang dipenuhi oleh tangan=tangan yang lalai dalam menjalankan kepemimpinannya,baik berbentuk korupsi,diskriminasi,kemalasan,dan moral yang makin tidak bisa di teladani…keluhan-keluhan saja sepertinya tidak akan merubah nasib bangsa kita,jika kita terus bertanya kenapa masih seperti “itu-itu “saja semua elit politik menjalankan amanahnya,maka kita mungkin lebih baik menyalahkan diri kita,kenapa lima tahun yang lalu kita juga milih partai yang “itu-itu” juga,maka hasilnya akan stagnan “itu itu”juga.

Saatnyalah saudaraku masih belum terlambat…masih ada waktu 2 harilagi untuk berfikir kembali partai mana yang akan kita pilih,jangan tertipu dengan tawaran sesaat.Saya jadi teringat perkataan Bapak fahri hamzah mantan ketua KAMMI 2008,yang namanya masyarakat sejahtera itu bukan dinilai dari banyaknya harta,memang negara dan pemerintah tidak akan memberikan kepada rakyat uang yang banyak.Tapi jika telpon ada dimana-mana,jalan-jalan bagus,air di kota dan didesa mempunyai sarana yang baik,pemerintah yang jujur dan amanah,transportasi lancar,semua sarana-sarana umum lancar maka itulah yang dikatakan sejahtera,rakyat tidak menuntut apa-apa selain sarana-sarana menjalankan kehidupan sehari-hari tadi terpenuhi.

maka belumkah lagi saatnya kita sadar,dan melihat dengan hati nurani dan kecerdasan dalam berfikir mana partai yang benar-benar mencintai rakyat dan menginginkan perubahan yang signifikan dalam  rumah aspirasi (baca DPR)  yang sepertinya sudah terkotori,alngkah malangnya dan menyedihkan kalau hanya mencontreng saja kita ogah-ogahan,tidak mau tahu,cuek dengan urusan politik, ada yang golput(malah berkata aku golput karena Allah) dan yang paling menyedihkan bila mengajak orang lain golput(bukannya memberi pendidikan politik yang bagus) maka jangan harap…dan jangan pernah berharap akan terjadi perubahan dinegri ini.

Sudah saatnya mata dan hati kita kita buka ..milih partai jangan coba-coba..jangan main api (nanti terbakar)…tapi milih partai merupakan bentuk partisipasi kita secara individual melakukan perubahan di tubuh pemerintahan Indonesia.

Ada beberapa trik yang ingin saya bagikan secara pribadi kepada anda yang menjadi pemilih pemula,atau yang masih kebingungan,atau yang niat golput tapi gak jadi ^_^  simak dan teliti baik-baik apakah ciri-ciri ini ada dalam tubuh partai yang akan anda pilih :

simpel saja….. apakah sholat shubuh kader-kadernya ke mesjid? terutama kader yang laki-laki…

kenapa mesti sholatnya?

karena sejahtera dan baik buruknya negara ditentukan oleh dua pilar, pemimpin dan sistem yang dijalankan. Maka jika pemimpinnya baik tapi sistemnya buruk tidak akan merubah keadaan secara mendasar. Sebaliknya, sistemnya baik tapi pemimpin buruk , juga akan membawa kegagalan. Jadi kita membutuhkan dua-duanya, pemimpin yang baik ,amanah, dalam sistem yang baik.,nah apa ubungannya dengan sholat shubuh?(baca Aja dibuku Misteri Sholat Shubuh) ^_^

Kewajiban memilih pemimpin yang baik tidak bisa dilepaskan dari kewajiban menerapkan sistem yang baik. Dalam Fatwa MUI hasil ijtima’ ulama dengan tegas dikatakan syarat pemimpin yang harus dipilih antara lain beriman dan bertakwa serta memperjuangkan kepentingan rakyat. . Pemilih cerdas dan ideologis, tentu tidak hanya berhenti pada sikap selektif untuk memilih. Tapi dengan sungguh-sungguhmempersiapkan dan memperjuangkan sistem baik yang berdasarkan syariah itu bisa terwujud. Upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kembali sistem pemerintahan yang bersih justru mencerminkan sikap yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara.

Pemilih yang cerdas dalam pandangan Islam haruslah mendasarkan aktifitas politiknya berdasarkan syariah Islam. Bukan semata-mata kepentingan pragmatis atau kemashlahatan yang berdasarkan hawa nafsu. Syariah Islam harus menjadi standar aktivitas politiknya, termasuk ketika melakukan perubahan untuk menegakkan sistem Islam.

Rasulullah saw telah mencontohkan untuk membangun sistem haruslah melakukan aktivitas politik yang bermuara pada tiga hal: terciptanya kader dakwah, terwujudnya kesadaran masyarakat yang menyadari dan bergerak menuntut perubahan, terdapat elit politik strategis (ahlul quwwah) yang mendukung sistem  Ketiga inilah yang menjadi kunci dasar dari perubahan masyarakat hingga terwujudnya pemerintahan yang benar-benar sesuai dengan harapan (memberi keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat)

Dalam rangka itu Rasulullah melakukan aktifitas politik yang menonjol antara lain membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam sehingga terjadi perubahan pemikiran di tubuh umat. Beliau juga menyerang ide-ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang rusak di tengah masyarakat, membongkar kepalsuannya dan pertentangannya dengan Islam .

Rasulullah saw juga membongkar kedzoliman dan kebejatan penguasa-penguasa yang ada ditengah-tengah umat . Rosullah saw menyerang Abu Jahal dan Abu Lahab dengan mengungkap kedzoliman dan penghianatannya terhadap umat. Disamping itu Rasulullah saw mendatangi elit-elit politik dari berbagai kabilah yang berpengaruh.

Dengan cara itulah hukum-hukum kebenaran bisa ditegakkan lewat kekuasaan. Walhasil, pemilih yang cerdas juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rasulullah saw. Sebab hanya dengan mengikuti cara Rasulullah saw kemenangan akan diraih dan diberkahi Allah swt.

Jadi berhati-hatilah dalam memilih partai pada tanggal 9 April nanti,selamat memilih sebut bismillah dan tawakkal alallah contreng POKANTAS (pojok kanan atas) sekali buka aja lipatan kertasnya akan segera terlihat disana PKS no 8,mudahkan?

2emblem_fire12801

 

Sunyi bersamamu… April 5, 2009

Filed under: my diary — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:

img1Sejenak ku kembali ke masa lalu saat-saat bersamamu,11 tahun sudah berjalan engkau selalu tegar saat fitnah melanda,pujian,sanjungan tak pernah meluluhkan semangatmu dalam menegakkan kebenaran,aku yakin kau bisa bertahan karena ada Allah di atas sana yang kau tuju.Duhai ketika semua orang begitu kreatif mendandanimu dengan berbagai “acesoris indah tapi natural” aku begitu cemburu..karena mungkin aku tiada artinya bagimu dibanding orang-orang yang mencintai kebenaran di negri kita,sementara aku disudut utara negri nabi,melihat dalam kerinduan.Lihatlah betapa dirimu begitu dicintai karenaNya..ada yang membuat stiker keren sperti ini http://www.friendster.com/photos/83451468/1/597398553   ada yang memberi hiasan berupa layout friendster http://profiles.friendster.com/102783228 bahkan mungkin ribuan orang yang menyukaimu ada di facebookhtt p://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=1237707829&ref=profile ,ada yang berlomba-lomba membuat blog khusus tentang dirimu,bahkan kreatif sekali serasa dirimu ada di dekatku http://www.pkspiyungan.blogspot.com ,ada yang mengumumkanmu melalui lagu-lagu sesuai dengan kelas pemahamannya masing-masing,ada iklan murni dari kader dengan tampilan dewasa dan mengajak kita berfikir lebih dewasa http://www.youtube.com/watch?v=FidOuvhSbK0 ,ada iklan yang di tujukan untuk umum yang memberi pendidikan politik dan pencerdasan masyarakat dalam memilihmu dan pesaing-pesaingmu http://www.youtube.com/watch?v=-2xhvD8ncp0&NR=1  iklan-iklan tentang “kecantikanmu,kesederhanaanmu,kebersahajaanmu,ketangguhanmu,kebersihan dan kerapianmu semua dikemas sangat kreatif oleh orang yang mencintaimu karenaNya,bahkan lihatlah anak-anak bandpun mulai melirik “kecantikanmu” http://www.youtube.com/watch?v=dBu1Sz1Itic, ikhwanpun tak ketinggalan mendendangkan tentang dirimu dalam clip bersahaja http://www.youtube.com/watch?v=jGToqcYcBiU&feature=channel bahkan anak-anak RAP juga ikut tak mau ketinggalan memamerkan kebolehannya seakan kau adalah wanita cantik yang diperebutkan oleh ribuan pangeran http://www.youtube.com/watch?v=57uqCFk8RZk&feature=channel ,juga tak mau ketinggalan para bapak2 mengumandangkan senandung lagu melayu tentang dukungan terhadap dirimu http://www.youtube.com/watch?v=f5PDev4QKfQ , gak tanggung-tanggung ternyata balita juga menyukaimu http://www.youtube.com/watch?v=m-ghYm1KoCw .membuatku tersenyum-senyum simpul.Duhai kenapa dirimu begitu di sukai… ada juga memberikan gambar2 dirimu layaknya gambar sebenarnya

 

 

2emblem_fire1280

 

Sunyi bersamamu…kurenungi ternyata sedikit sekali aku berbuat untukmu,secuilpun mungkin belum,dibandingkan dengan saudara-saudaraku disana,mereka DS siang malam mendatangi masyarakat dan mengenalkanmu,mengeluarkan biaya berjuang dari kantong mereka sendiri,panas,terik,hujan,badai semua menyenangkan ati mereka meski setelah itu mereka tidak akan mendapat balasan darimu,karena balasan Allah lebih utama disisi mereka. sunyi bersamamu…3 hari lagi dirimu akan mulai melihat apa yang selama ini kita perjuangkan,mungkin kau akan deg deggan akan hasil pilihan rakyat tapi apakah kau tau kami lebih lagi tak bisa tidur..memikirkan apakah dirimu yang berpihak pada kebenarana akan masuk nominasi menerima amanah umat atau tidak?

Sunyi bersamamu du sudut utara negri nabi,memandang padang pasir disana sini,terbayang lelah letihnya sang Baginda yang dulu menengakkan dakwah ini,,, sunyi bersamamu hanya doa yang bisa kupanjatkan dan sedikit kerinduanku melihatmu tampil ala kadarnya di youtube http://www.youtube.com/watch?v=l8C5hQWKZI0 .Kuberdoa semoga Allah memberi kemenangan yang berka kepadamu duhai yang “cantik rupanya” ,”bersih lahir batinnya”,istiqamah menjadi mutiara dalam lumpur” oase dalam ketidakmungkinan,bangkitlah kalah menangnya serahkan pada Al Mulk yang memberi kekuasaan pada siapa yang Ia kehendaki..namun azzamkan dalam hati bahwa kamu bisa dan akan tetap “cantik” dalam pandangan Allah.

sunyi bersamammu duhai… PKS …..Partai Kalem & Santun

Sunyi bersamamu… 3 hari lagi ingin kulihat kau tersenyum