MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Duhai Allah June 10, 2009

Filed under: puisi — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jun

Duhai Allah…

dalam setiap kesibukan jiwa yang mengembara

dalam setiap goresan pena yang tertulis

dalam setiap lakon hidp yang berlaku

kupinta padaMu wahai kekasihku

 

Jangan tinggalkan daku sedetikpun

tiadalah artinya diriku tanpaMu..

 

 

 

 

KSA 17/6-1430 at 8 am

Mendekat kepadaNya dalam bait bait doa sang akhwat yang dhoif…

 

2 Responses to “Duhai Allah”

  1. agus setiyadi Says:

    barang siapa mengingat Allah di kala sunyi…maka Allah akan menemani nya di kala sepi…barang siapa mengingat Allah di waktu ramai …niscaya Allah akan mengingat nya di masa yg jauh jauh lebih ramai…di masa yg tidak ada perlindungan yg berlaku kecuali perlindungan nya….

    akhwatfillah
    Jazakallah..

  2. m ihsan dacholfany & natsir al irsyad fi zadinajah Says:

    *Cinta*

    “Ya Allah…..
    Saat aku menyukai seorang teman
    Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
    Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

    Ya Allah…..
    Ketika aku merindukan seorang kekasih
    Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
    Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi

    Ya Allah…..
    Jika aku hendak mencintai seseorang
    Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
    Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

    Ya Allah…..
    Ketika aku sedang jatuh cinta
    Jagalah cinta itu
    Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

    Ya Allah…..
    Ketika aku berucap aku cinta padamu
    Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
    Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu”

    Nb :
    Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
    Dicintai seseorang adalah sesuatu
    Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
    Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya

    Antara Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid

    Suatu hari, ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan salat. Ia termasuk orang saleh. Di masjid ia melihat seorang anak kecil berusia tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan salat dengan khusyu’, melakukan ruku’, dan sujud dengan hening dan tenang. Tatkala anak itu selesai dari salatnya, si kaya mendekati kepadanya seraya berkata,”

    “Anak siapakah kamu?”

    “Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku.”

    ‘Maukah kamu menjadi anakku?”

    Si anak berkata, “Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?”

    Si kaya menjawab, “Ya, tentu.”

    “Apakah engkau akan memberiku minum saat aku haus?”

    “Ya, tentu saja.”

    “Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?”

    “Ya.”

    “Apakah engkau akan menghidupkanku tatkala aku sudah mati?”

    “Takjublah lelaki itu seraya berkata, “Ini tidak mungkin dilakukan.”

    Anak kecil itu berkata, “Kalau begitu tinggalkanlah aku bersama Dzat yagn telah menciptakan aku, memberiku rizki, mematikanku kemudian menghidupkanku kembali.”

    Lelaki itu berkata, “Benar wahai anakku, barang siapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupi.”

    Kalian adalah Hamba yang Buruk

    Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapati seorang laki-laki sedang menyembah patung.”

    Kami berkata kepadanya, “Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat.”
    Dia bertanya, “Kalau demikian, apa yang kalian sembah?”
    Kami menjawab, “Kami menyembah Allah.”
    Dia bertanya, “Siapakah Allah?”
    Kami menjawab, “Zat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi.”
    Dia bertanya, “Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?”
    Kami jawab, “Zat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mukjizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami mengenai hal itu.”
    Dia bertanya, “Apa yang dilakukan oleh rasul kalian?”
    Kami menjawab, “Ketika beliau telah tuntas menyampaikan risalah-Nya, Allah SWT mencabut rohnya, kini utusan itu telah meninggal.”
    Dia bertanya, “Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?”
    Kami menjawab, “Dia meninggalkan kitabullah untuk kami.”
    Dia berkata, “Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!”

    Kemudian, kami memberikan mushaf kepadanya.
    Dia berkata, “Alangkah bagusnya bacaan yang terdapat di dalam mushaf itu.”

    Lalu, kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, “Tidak pantas Zat yang memiliki firman ini didurhakai.” Maka, kemudian ia memeluk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik.

    Selanjutnya, dia meminta kami agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya, lalu kami mengajarkan beberapa surah Alquran. Ketika malam tiba, sementara kami semua tidur, tiba-tiba dia bertanya, “Wahai kalian, apakah Zat yang kalian beri tahukan kepadaku itu juga tidur?”
    Kami menjawab, “Dia hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah mengantuk atau tidur.”
    Dia berkata, “Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercelabilamana seorang hamba tidur nyenyak di hadapan tuannya.” Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan salat. Demikianlah, kemudian ia qiamullail (salat malam) sambil menangis hingga dating waktu subuh.

    Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada kawanku, “Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat pantas jika kita membantunya.” Mereka pun bersedia mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadanya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya. Seketika saja ia bertanya, “Apa ini?”
    Kami jawab, “Sekadar infak, kami berikan kepadamu.”
    Dia berkata, “Subhanallah, kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah zat lain, sekalipun demikian dia tidak pernah menyia-nyiakan aku … maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Zat yang aku sembah sekarang ini, Zat Yang Maha Mencipta dan Zat Maha Memberi rezeki akan menelantarkan aku?”

    Setelah itu dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bahwa ia dalam keadaan sekaratul maut. Kami segera menemuinya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, “Apa yang kamu inginkan?”

    Dia menjawab, “Keinginan dan harapanku telah tercapai pada saat kalian datang ke pulau itu, sementara ketika itu aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah.”

    Kemudian, aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba saja aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi melihat teman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya nampak seorang gadis sangat cantik. Gadis itu berkata, “Demi Allah, segeralah mengurus jenazah itu, aku sangat rindu kepadanya.” Maka, aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku mendikan dan kafani jenazah itu.

    Pada malam harinya, saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat bahagia, didampingi seorang gadis di atas tempat tidur di bawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah, “(Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum.’ Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d: 24). (Al-Mawa’izh wal-Majalis, 40).

    Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, terjemahan dari kitab Mi’ah Qishshah min Qishashish, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab.

    Kisah Pohon Apel

    Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yangamat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut.

    Masa berlalu… anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskanmasanya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohonapel itu.” Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.” Aku mau sebuah permainan. Aku perlukan uang untukmembelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.Lalu pohon apel itu berkata, ”

    Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.”
    Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. Masa berlalu…Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.
    Pohon apel itu merasa gembira.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.”Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bolehkah kau menolongku?” Tanya anak itu.”

    Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kauboleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kaubuatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu memberikan dahan.Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannyamerasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.

    Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemuipohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yangpernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohonapel itu.” Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Akumempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, akutidak mempunyai boat. Bolehkah kau menolongku?” tanyalelaki itu.”

    Aku tidak mempunyai boat untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untukdijadikan boat. Kau akan dapat belayar dengangembira,” kata pohon apel itu.Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batangpohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengangembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namunbegitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakindimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.”

    Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untukdiberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat boat. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu.”
    Aku tidak mau apelmu kerana aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu kerana aku tidak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.”

    Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon apel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.

    Taukah kalian siapa yang dimaksud dengan Pohon apel itu?
    Ya, dia adalah ke-dua orang tua kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka.Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup.Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapak mereka. Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.
    Seperti dalam buku satu tiket kesurga salah satunya adalah kita harus berbakti kpd oRtu kita terutama ibu, Beruntunglah bagi kita yang masih memiliki ibu ( masih hidup) sehingga kita masih bisa berbakti kpd mereka.

    Pertanyaan : Apakah kalian sudah dapat membanggakan orang tua kalian saat ini? menjadi anak soleh yang dapat menambah pahala orang tua kita? ataukah malah menambah dosa ? membuat mereka sedih?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s