MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Elang kecil June 13, 2009

Filed under: cerpen — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jun
Tags:

DSC00828

 Terbang tinggi membelah langit…

Meliuk… lalu menukik menusuk bumi….

Sayapnya terpentang lebar tanpa kepakan,

melayang berputar di antara puncak-puncak tertinggi….

Elang perkasa melempar tajam nya pandangan…,

Sebelum akhirnya mencengkeram mangsa…

 

Dua buah tebing kembar berdiri berhadapan, berpadu dalam satu ikatan kokoh yang harmonis dalam kehendak-Nya. Air terjun mengalir deras di antara ke dua tiang raksasa, bak ular perkasa yang berusaha melepaskan diri sekedar untuk merayakan kebebasan. Batu-batu sungai yang teguh dalam setiap posisinya dengan sabar menerima setiap tumbukkan di tubuh nya…. Sungguh simponi yang indah. Kaidah alam perawan memang selalu beresonansi kedalam hati setiap saksi. Mungkin kaidah inilah yang menyebabkan`mak Imu mengajak cucu nya Arya ke tempat itu , sekedar berbagi kedamaian yang mungkin dibutuhkan Arya di masa depan nya. “ Mak….itu burung Mak!”,”Ooh….Iya itu burung, nama nya E….lang!”,”Eeeelaang!”,”Hmm..ya.. betul  elang!”,”Besar ya Mak…!”,”Besar…. dan gagah!”,”Mak teman-temannya mana?,koq elang sendirian aja?”,”Yaa… biasanya Elang memang sendirian…!”,”Kasihan Elang ya Mak…!”,”Arya ga usah kasihan sama Elang…karena Elang ga pernah merasa kesepian…, Elang tahu bahwa ada yang mengawasi dia sepanjang waktu…, yang telah menahan dia di udara, dan menjadikannya bisa terbang…, Yang menyediakan mangsa untuk di buru hingga ia dan anak-anak nya bisa makan!”,”Siapa Mak?”,”Dia lah Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu!”,”Allah….., Tuhannya arya mak?!”,”Iya…Allah itu Tuhannya arya , emak…, dan semua yang ada di langit dan di bumi!”,”he…he…. Banyak ya mak…!”,”Iya Allah adalah Tuhan nya setiap makhluk!”,”kalo elang nya mati gimana mak..?”,”Elang itu sepanjang hidup nya selalu bertasbih kepada Allah, jadi apapun yang terjadi… dia tidak akan pernah menyesal…,kalo dia mati berarti dia pulang kepada Allah Yang telah menciptakan dia!”,”bertasbih itu subhanalloh ya mak..!”,”Oooh itu tasbih nya manusia.., kalo cara bertasbih elang itu hanya elang dan Allah yang tahu.”,”Ooo..rahasia ya mak!”,”Iya rahasia…”,”trus anak-anak nya gimana mak?”,”anak-anak nya di urus oleh Allah…, sama aja dengan arya… ketika mama sama papa arya pergi Allah ngirim emak untuk nemenin arya, dan nanti kalo mak yang pergi Allah pun akan ngirim orang lain lagi untuk menjaga arya!”,”mak….. arya ngantuk….!”,”oh… ayo kita pulang!” Tiba-tiba arya yang masih berusia empat tahun itu menengadah ke arah cakrawala senja yang mulai menguning. “mak…. elang nya pulang!” mak imu ikut melempar pandangan kearah yang di tunjuk arya. Elang putih ber sayap keperakan melayang ke arah mentari yang mulai terbenam. Arya berhenti menatap ketika elang itu hanya berupa titik kecil yang di telan mega. Dua tangan kecil arya terangkat keatas, sebuah permintaan tanpa kata telah ia ajukan kepada sang nenek. Mak imu meraih arya dan memeluk nya kedalam pangkuan. Arya sandar kan kepala nya di pundak kanan sang nenek, tirai pandangan nya telah tertutup bersamaan dengan helaan nafas yang mengalir tenang. Tarian puncak pinus yang gemulai ikut menghantarkan kembali nya arya kecil ke peraduan.

 

 

Anak…, ketika kenangan kita meraih kata itu,maka ia akan membawa kita melompat ke arah yang berlawanan dengan jarum jam, yang secara geografis bisa jauh bisa dekat ,  juga     bisa lama bisa sebentar menurut masa. . tapi itulah unik nya  ingatan, sebuah mekanisme otak yang bisa membawa kita menembus ruang dan waktu yang sudah sangat jauh terlampaui oleh jasad. Hanya dengan satu lompatan.., kita akan sampai di masa lalu dalam  sepersekian detik.

Anak…, symbol kepolosan…, zahir dari berlaksa kesucian, sebuah wujud dari berjuta kebaikan yang teramu apik sebagai karya Yang Maha Kuasa .

Anak…terlahir dari percampuran cinta antara dua insan. Dua sosok yang berbeda secara anatomi , berlainan dalam setiap kecenderungan nya , uniq di setiap rasa dan keinginan nya. Dua sosok yang dipersatukan taqdir, hingga beradaptasi  satu sama lain. Sungguh nikmat-Nya yang manakah yang akan kita dusta kan. Sudah kah kita bersyukur ?

 

Adzan shubuh telah ber kumandang , bergema hingga ke sela-sela mimpi arya. Bergetar jiwa arya , akibat  debaran yang belum sanggup dia mengerti. Serangkaian impuls telah memaksa sel-sel otak nya untuk segera menutup slide-slide mimpi malam tadi . Pelupuk mata arya mulai bergerak, sebagai tanda bahwa sang jiwa telah kembali dari pengembaraan nya. Mata arya ter buka , dua tangan yang mungil membantu tubuh nya untuk berdiri tegak. Tapi ia rasa kan kamar nya ber goyang , kaki nya masih goyah , keseimbangan nya belum se penuh nya  pulih . Akhir nya ia putus kan untuk diam beberapa saat. “ eeh…, cucu ku udah bangun, ayo… wudlu dulu ! masih ingat kaan cara nya?!”,”arya mengangguk, tapi kemanjaan nya mendorong ia untuk minta di gendong. Dengan penuh kasih mak imu membawa arya ke dapur , tempat ia menyiap kan air hangat untuk arya. “ nah sekarang kita sholat…!” , arya turun dari pangkuan nenek nya , berdiri di samping wanita lanjut usia yang kini telah mengenakan mukena. Arya mengikuti gerakan demi gerakan se bisa yang ia mampu. kepala nya tidak henti-henti nya menengok bolak balik antara sang nenek dan sejadah kecil tempat ia bersujud. Dua rakaat sholat shubuh telah sempurna di lakukan mak imu di setiap rukun nya. Tangan nya membelai kepala arya, kepala mungil yang selalu membuat nya terharu , ada beberapa tetes air bening keluar dari dua bola mata nya. Mak imu menatap dalam-dalam kepala yang kini menempel di paha kiri nya , seolah berusaha membongkar apa yang ada di balik rambut tebal itu. Ada kekhawatiran menyelinap di relung sanubari nya, tentang masa depan arya , dan juga tentang diri nya yang renta . Entah berapa lama lagi ia dapat menemani arya di dunia ini  . “mak, ngaji.. mak!”,” oh,iya…. Arya mau ngaji surat apa?” ,” tabbat yadaa…mak!” arya memilih surat kesukaannya . mak imu tersenyum lembut, tangan kanan arya menggapai pipi nenek nya. Mak imu membiarkan tangan mungil itu mengelus-elus pipi nya sejenak.”Mak, ambil qur’an dulu yaah..!”, arya mengangguk-angguk lucu.

Embun pagi telah luruh ke bumi , butiran nirmala membasuh wajah langit dari milyaran partikel polusi hingga terlihat lebih cerah. Mentari pagi yang khas dalam setiap senyum nya , lembut menyapa bumi. Arya berlari kesana kemari di halaman depan rumah nya, di atas tanah yang di penuhi rerumputan. Mak imu mengawasi arya dari kursi bambu panjang tempat nya duduk selonjoran. Ia senang melihat cucu nya seperti itu, ia biar kan arya mengejar makhluk dalam khayalan nya. Orang-orang yang segenerasi dengan mak imu berkeyakinan bahwa membiarkan anak kecil berlari-lari di atas rumput yang masih basah dengan embun akan membuat kaki mereka kuat. “ maaak…!” tiba – tiba arya berlari ke arah nenek nya dengan muka yang pucat. “ ada apa?”,” ituu…!” arya menunjuk ke arah seorang wanita yang tengah melangkah tergesa menuju ke rumah mereka. Tubuh arya menggigil ketakutan, ia sembunyikan tubuh nya di balik badan mak imu, dengan sepasang mata mengintip ke arah wanita tadi . “ itu kan mama nya arya..!” arya makin mengkerut seolah berusaha mengecilkan badan nya.” Arya marah sama mama?”, arya menggeleng, wajah nya ia benam kan dalam-dalam ke punggung mak imu.” Arya takut sama mama?” arya mengangguk-angguk, mak imu dapat merasakan anggukan itu melalui gerakan kepala yang menempel ketat di punggung nya . mak imu menarik nafas panjang , ia mengingat masa – masa arya bayi, anak itu selalu menangis setiap di susui ibu nya, selalu tidak nyaman jika bersama ibu atau ayah nya . Arya selalu marah jika tidur bersama orang tua nya, itu lah kenapa arya di rawat oleh nya, karena hanya bersama nenek nya arya bisa tenang. Tak terasa tiga tahun sudah arya tumbuh jauh dari orang tua nya, jarang sekali mereka menengok arya. “ assalaamu’alaikum!”,” ‘alaikum salaam !” ,”mak.., arya mana?”,”arya salam dulu sama mama!”,tapi arya sudah tidak berada di tempat itu. “ ah…sudah lah, nanti kita cari… paling di rumah tetangga .” mereka berdua duduk berdampingan .” bu, aku kesini untuk mengambil arya ,biar bagaimana pun kami adalah orang tua nya . jadi mau gak mau arya harus tinggal bersama kami.”,” ya , ibu mengerti.” Setelah berbagi cerita beberapa lama mereka berdua mencari arya. Seperti yang di duga mak imu , arya bersembunyi di rumah tetangga  yang biasa ikut mengasuh nya. “ayo arya , ikut mama… kita ke bandung!” . arya mencoba melarikan diri,tapi mama nya  dengan cepat menangkap nya. Arya meronta-ronta berusaha melepaskan diri, menggeliat , memukul,namun mamanya terus memeluknya dengan erat. Akhirnya perlawanan arya berhenti, tenaga nya yang terbatas telah terkuras. Arya menangis marah,matanya berkilat-kilat tajam. Ketika tatapannya sampai pada wajah nenek nya , arya mulai berteriak-teriak memanggil mak imu, mata nya menatap penuh permohonan .”mak…., tolong arya maaaak!”,” arya diam!, ini mama arya…”, mama arya menengahi teriakan arya . ” gak mau…, arya mau sama mak aja, maaaaak… tolong arya maaaaaak!”. semakin lama teriakan arya semakin keras. mak imu tidak bisa berbuat apa –apa tubuh nya serasa lumpuh, ia hanya menggigit bagian bawah bibir nya , tanpa mampu berkata apa-apa. Hati nya seperti sedang dilubangi dan ia membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Ia biar kan pintu kamar hati nya di dobrak paksa. Arya mulai kebingungan , suara nya yang mulai serak telah membuat nya menyerah untuk terus berteriak . ia lontar kan pertanyaan dengan tatapan nya. Untuk pertama kali dalam hidup, sang nenek tidak bergerak untuk menolong nya, ia merasakan marah yang bercampur takut dan kesedihan di hati nya . Dan untuk pertama kali nya juga ia merasakan perasaan di khianati, sebelum ia tahu tentang kata dan arti nya.

Telah lima hari mak imu berpisah dengan arya, lima hari pula ia hanya berbaring dengan memeluk setiap kenangan tentang cucu nya. Setiap detik kebersamaan nya dengan arya selalu melahirkan impresi yang tidak pernah tidak indah. Kesan yang kini membuat nya ter benam ke dalam kerinduan. “aaaaryaa…., aaaaaaryaa…..!” suara anak kecil memanggil-manggil nama arya dari luar. Teriakan-teriakan canggung nya turut memanggil kesadaran mak imu kembali. Ia bangkit perlahan – lahan, rambut putih panjang ia gelung ke atas di tusuk sebatang konde kayu. Kerudung warna gelap ia kenakan di kepala nya , hingga ter tutup lah segala aib tentang rambut nya. kini hanya wajah lembut lah yang tampak, di hiasi  kontur  kebijaksanaan. “ assalaamu’alaikum…!”. Kali ini suara seorang wanita yang terdengar. “ wa ‘alaikum salaam…!” jawab mak imu seraya membukakan pintu.’..re…keeeeeeee….eeeet’ Suara engsel pintu yang sudah karatan terdengar begitu keras menyayat hati. “Eeeeeh……., ada ninda , mau ketemu arya yaa….?!”,”iya… ni bu udah seminggu ninda nanyain arya terus .” mama ninda menimpali.” Waah bener begitu ninda…., sayang arya udah ga tinggal sama nenek lagi…., arya ikut ama mama nya ke bandung!”. Anak perempuan itu menggoyang-goyang kan badan , tidak jelas apa yang dirasakan nya. “waah sayang sekali ……. kalo begitu kami pulang dulu”. “ oh ya silahkan bu , hati-hati di jalan… daaag …ninda….!”

*******

          A journey of a thousand miles begins with a single step , satu langkah sederhana bisa berarti suka atau duka. Bisa dengan rela atau terpaksa, karena ketika waktu nya tiba sepasang kaki ini mau tidak mau akan melangkah juga. Berhasil tidak nya anak manusia menyikapi perjalanan hidup , ditentukan oleh seberapa besar kapasitas keikhlasan nya. Karena hanya orang ikhlas lah yang sanggup memeluk penderitaan dan kebahagiaan dengan sama baik nya.

           Arya duduk termanggu di pintu masuk rumah nya, dua tangan nya memeluk lutut . dua tahun sudah ia berpisah dari nenek nya, dan dua tahun pula ia tidak merasakan keceriaan yang lepas begitu saja khas anak seusia nya. Rumah arya berdiri memanjang , bersama rumah yang berada di hadapan nya membentuk se buah gang yang pendek. Di dalam rumah ,mama arya tengah menangis tersedu . ada luka memar bekas tamparan di wajah nya. Tapi jelas bukan luka di wajah  yang membuat ia tak berhenti ter isak. Arya tidak mengerti dengan semua yang terjadi, pikiran nya kosong…, ia terlalu kecil untuk mengerti. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia tidak menghampiri mama nya . bagi arya baik papa nya yang pagi tadi memukuli mama nya, atau pun sang mama yang tadi me maki  ayah nya, keduanya sama mengerikan . orang dewasa terlalu sulit di pahami oleh anak se kecil arya.

             Setiap anak memiliki impian, mereka selalu ingin jadi segala yang mereka anggap hebat. Demikian pula dengan Arya, Cuma beda nya Arya tidak pernah mengatakannya kepada siapapun. Dia pisah kan diri nya dari dunia yang tidak dia mengerti. Hati nya di bentengi dinding yang kokoh, hanya sedikit hal yang masih ia ijinkan untuk masuk ke dalam nya. Jauh di dalam benak arya ada ruang yang luas tempat ia menyimpan segala impian. Dan segala yang dunia beri ia simpan di sana, sebelum ia pastikan benar-benar aman bagi hati nya.

 

Note : sebuah kiriman cerpen yang membuat airmataku mengalir…menggambarkan potret anak kecil yang hidup dalam kerasnya dunia orang dewasa,sebuah pesan juga bagi para orang tua..mulailah didikan anak dengan  tauhid,cinta,kelembutan hingga jiwa anak menjadi nyaman dalam “dekapan kita”  (alamat penulis   setiyadi.agus@gmail.com)

 

One Response to “Elang kecil”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s