MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Muhasabah menuju Bulan Ramadhan July 29, 2009

Filed under: artikel mini,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

 B
Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini ada bebrapa kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.

Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.

Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ;

Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)

Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.

Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan

Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

 

11. Semakin jarang bershadaqah

 

12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

 

13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

 

15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

 

16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

Advertisements
 

Keistimewaan bulan suci Ramadhan

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

images

 1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. ” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ ” (HR. Ahmad)'”

 

Puasa dibulan sya’ban menuju Ramadhan

Filed under: artikel mini,dakwah — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul
Tags:

CA5V8UTTSaudaraku fillah,

Tak terasa bulan ramadhan semakin dekat menghampiri kita,sepatutnyalah kita menyambut bulanmulia ini dengan gembira,gembira dari hati dan iman terdalam,semoga Allah memberikan kita kesempatan mengarungi samudra Ramadhan,mengail pahala dan menebar jala kebaikan bagi sekeliling kita.Salah satu bukti kecintaan kita akan Ramadhan adalah mempersiapkan diri menemuinya sebaik-baiknya,salah satunya adalah kita mulai sejak bulan Sya’ban ini membiasakan puasa sunnah sebanyak-banyaknya karena demikianlah yang dilakukan oleh Baginda Rosulullah SAW dan para sahabat.

 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلُ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلُ لاَ يَصُوْمُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامً مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ

 

“Adalah Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan/pernah berpuasa, maka saya tidak pernah melihat Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan selain bulan Ramadhan dan tidaklah saya melihat paling banyaknya beliau berpuasa di bulan Sya’ban.” (bukhari dan muslim)

Inilah salah satu indikasi kecintaan Ramadhan yang terkadang kita lalaikan,padahal bulan sya,ban adalah bulan dimana Rosulullah melakukan puasa sunnah paling banyak,karena kecintaan akan menyambut Ramadhan maka Baginda Rosulullah dan para sahabat memulikan bulan sya,ban,menempa diri di bulan ini  ,membina diri,mensucikan hati,agar Ramadhan benar-benar bersama kita dan kita telah mempersiapkan diri untuknya.

Demikian tulisan singkat ini saya buat semoga bermanfaat,saudaraku selamat berpuasa sunnah di bulan Sya’ban semoga Allah mempertemukan kita di bulan Ramadhan…amin

 

Kelahiran putriku zainab syahidah July 27, 2009

Filed under: my diary,senyum ikhwan — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul
Sister Wedad begitu sibuk mempersiapkan Delivery set di Kebidanan,maklumlah hari ini genap 9 bulan sudah kehamilanku,tanda-tanda melahirkan sudah tampak,sakit semakin menjadi,aku berdiri sambil memegang tempat tidur menahan rasa sakit.Ada rasa kecemasan ketika melihat alat-alat melahirkan itu,terbayang sakitnya mengejan,nanti dokter akan melakukan episiotomi aduh..ya Allah bantu hamba..hilangkanlah rasa sakit saat melahirkan nanti.Aku pun berbaring di tempat tidur,tiba-tiba ada air mengalir dari bawah…oo rupanya pecah ketuban,alhamdulillah air ketubannya jernih,aku berbaring sambil terus berdoa..berdoa yang Allah hilangkan sakit saat melahirkan nanti..

Sister wedad seorang bidan philippina itu begitu respec denganku..semua disiapkan secara profesional,dan steril..aku senang sekali melahirkan di Saudi Arabia.O ya sarah…aku dan Taini akan pergi ke ICU pull out karena ada sekitar 32 pasien sekarang di ICU jadi tolong lihat saja ukhti aisha ya,jika sudah fully segera call ICU.ya Allah aku di tinggal sendiri di Kebidanan dengan ahli gizi…gawat nich..tapi aku hanya diam,sarah terus mengajakku bicara mangalihkan perhatianku…tiba-tiba aku merasakan rasa sakitku hilang ..hilang total..kemudian tiba-tiba bayi dalam kandunganku lahir spontan,kulitnya bersih tidak kotor dan air ketubannya juga jernih,Tiba-tiba sister wedad datang dan segera menolongku membantu bayiku keluar…tapi aneh sedikitpun aku tidak merasakan sakit,bahkan tanpa episiotomi untuk kehamilan pertama dengan berat bayi 3,4 kg…masha Allah…

Bayiku kemudian dilihatkan sister wedad..masha Allah..rambutnya panjang sebahu..kok bisa ya? ^_^
bayi itu kupandang-pandang..tiba-tiba sister wedad berkata…sarah tolong telp mujahid bilang istrinya sudah melahirkan,sarahpun sebera menelpon mujahid…Ass,mabruk akhi istri antum sudah melahirkan namanya zainab syahidah… 5 menit kemudian Mujahid datang pakaian dinas..aku terkejut,kok mujahid bisa ke saudi..cinta kan di Indonesia?? dalam bahagia yang tak terperi…Zainabku lahir dan juga kehadiran mujahid…Mujahid memandangku mesraaaaa sekali…mabruk ya sayang..sudah jadi bunda kan sekarang?? aku tersenyum kucium zainabku dan mujahid bersama-sama duduk di Delivery Room.. bahagianya… kupeluk lagi zainab sambil bertasbih…tiba-tiba…plaakk… HP Soni ku jatuh dari tempat tidur…yaaaa ternyata cuma mimpi..

My Bed,3.am
Sweet dream ^_^

 

Memilih pemimpin July 7, 2009

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

 

n40873079388_4706“Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Allah. Maka siapa yang hendak beriman, maka berimanlah, barangsiapa hendak (menjadi kafir) maka biarlah ia kafir…..” Q.S.18.al Kahfi.A.29 Manusia adalah makhluk yang sedemikian mulia disisi Allah. Ia berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih, bahkan diberi kebebasan menjadi kafir atau beriman. Apapun pilihannya, masing-masing harus mempertanggungjawabkan pilihannya kelak. Bukankah makhluk yang mulia adalah mereka yang hidup, dan yang lebih mulia dari yang hidup adalah mereka yang diberi wewenang untuk memilih dan dipilih, dan yang mulia dari yang memilih dan terpilih, adalah mereka yang dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil pilihannya dan terpilihnya. Kemudian yang termulia diantara mereka adalah yang lulus dalam pertanggungjawaban itu. Kepemimpinan merupakan kenyataan yang penting dalam keberlangsungan dan kesinambungan hidup, lebih-lebih pada kehidupan manusia. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun komunitas tanpa pemimpin, meski bentuk dan mekanisme pengangkatan dan penggantiannya sangat beragam. Dalam terminologi al Quran dan al Sunnah kepemimpinan sering diungkapkan dengan istilah-istilah : imam, malik, khalifah, amir. Dan gelarnya pun beragam serta berkembang, terutama dalam terminologi politik, kepemimpinan diartikan juga sebagai sulthon, syeikh, dan rois. Namun fungsi jabatannya tetap, yaitu untuk melindungi masyarakat dengan menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia/hirasatu al din wa siasat al dunia, menyuruh (rakyat) untuk berbuat kebaikan dan mencegah (rakyat) dalam berbuat kerusakan/al amru bil ma’ruf wa al nahyi ‘anil munkar. Mengingat betapa pentingnya fungsi tersebut maka kepemimpinan harus dijaga eksistensi/keberadaan dan suksesi/kesinambungannya, meskipun mekanismenya bisa beragam dan berkembang sesuai situasi dan kondisi saat itu. Di kalangan intelektual muslim ada wacana/pemikiran mengenai proses dan mekanisme suksesi kepemimpinan, tetapi setiap wacana yang ada tetap mengacu kepada ketentuan syar’i. Sesuai telaah sejarah, ragam wacana suksesi tersebut ada tiga cara yang dilakukan; Pertama, melalui pemilihan langsung. Kedua, pemilihan tidak langsung. Ketiga, penunjukan langsung oleh pimpinan sebelumnya. Keragaman mekanisme suksesi ini telah terjadi semenjak masa khulafa’ al rasyidin dan sampai sekarang, dan di beberapa negara-negara Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mekanisme suksesi kepemimpinan bukan sesuatu yang baku. Dan ketidak bakuan mekanisme itu sendiri justru mencerminkan fleksibelitas tuntunan ajaran Islam. Karena kepemimpinan bukan tujuan. Kepemimpinan adalah sekadar alat dan jalan untuk melindungi masyarakat agar kehidupannya dapat mencapai maslahat dan terhindar dari kemudharatan/ dar al mafasid muqaddam ‘ala jalib al mashalih. Islam menuntun umatnya agar memilih dan mengangkat pemimpin. Tidak hanya dalam suatu masyarakat bangsa yang luas dan menetap dalam satu wilayah. Dalam perjalanan di tengah padang pasir sekalipun, walau hanya bertigapengangkatan pemimpin diperlukan. Hal ini sesuai sabda Nabi SAW, “Apabila kamu dalam perjalanan, walau dipadang pasir, maka hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai pemimpin”. H.R. Abu Daud. Dalam hadis yang lain sebagaimana diriwayatkan, Nabi SAW memperingatkan, ‘Barangsiapa yang memilih seseorang, sedang ia mengetahui bahwa ada orang yang lebih wajar dari yang dipilihnya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul dan amanat kaum muslimin ‘. Rasulullah SAW juga mengisyaratkan siapa yang harus dipilih, ‘Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atau penguasa atas kalian’. Kalimat yang singkat dari Rasulullah ini dapat mengandung beberapa makna, pertama, seorang penguasa atau pemimpin adalah cerminan keadaan masyarakatnya. Pemimpin atau penguasa yang baik adalah yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya. Sedang masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. Kedua, tidak tergesa-gesa menyalahkan lebih awal pemimpin yang menyeleweng, durhaka atau membangkang. Sebab, pada dasarnya yang salah adalah masyarakat itu sendiri. Bukankah pemimpin atau penguasa adalah cerminan dari keadaan masyarakat nya secara umum ? Al Quran dan al Hadis mengingatkan umat Islam dalam memilih pemimpin atau penguasa pada beberapa aspek normatif berikut; a). Pemimpin haruslah orang yang beriman dan yang mengutamakan keberimanannya, bukan pemimpin yang lebih mencintai kekafiran . S. Attaubah. A.23. b). yang memiliki keluasan ilmu dan kuat perkasa/basthotan fi al ‘lmi wa al jism S. Al Baqarah. A 247, serta mampu memelihara harta negara dan berilmu pengetahuan./hafidzun ‘alim, S.Yusuf. A.55, c). orang yang kuat dan dipercaya/al qowiyu al amin. S.al Qashash.A.26. Kekuatan yang dimaksud, adalah kekuatan dalam berbagai bidang, tidak hanya kekuatan fisik, tapi juga mental. Selanjutnya kepercayaan yang dimaksud, adalah integritas pribadi yang menuntut adanya sifat amanah, sehingga tidak merasa bahwa apa yang ada dalam genggaman tangannya merupakan milik pribadi, tetapi milik masyarakat yang harus dipelihara, sekaligus rela mengembalikannya bila diminta kembali. Dalam sebuah hadis dari Ma’qal bin Yasar al Muzni, Rasulullah SAW bersabda, ‘tidak ada seorang pemimpin yang mengurus urusan kaum muslimin lalu tidak sungguh-sungguh (mengurusnya) dan tidak jujur, melainkan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam surga’. H.R. Muslim. Memang tidak mudah menemukan orang yang dalam dirinya tergabung secara sempurna ke tiga sifat di atas. Umar bin Khattab ra semasa kepemimpinannya pernah mengeluh dan mengadu kepada Allah, ‘ Ya Allah, aku mengadu kepada Mu, kekuatan si fajir (orang yang suka berbuat berdosa) dan kelemahan orang-orang yang kupercaya ‘. Karena itu, harus ada alternatif. Dalam memilih panglima perang, yang harus didahulukan adalah yang memiliki kekuatan, sekalipun keberagamaannya kurang. Karena kekuatannya dapat dimanfaatkan untuk melindungi masyarakat, sedang kelemahan imannya, tidak merugikan orang lain kecuali dirinya sendiri. Tuntutan normatif terhadap setiap fenomena politik yang dijalani umat Islam sepanjang masa, merupakan kenyataan dan keharusan dalam ajaran agama. Kepemimpinan adalah kekuasaan, dan kekuasaan adalah alat untuk menegakkan syari’at (hukum). Akan tetapi perkembangan akan tuntutan itu sepanjang sejarahnya mengalami pasang surut. Dan kita terkadang dihadapkan pada satu situasi yang sulit dalam menjatuhkan pilihan. Di sini, sekali lagi Islam datang dengan tuntunannya. Yang utama, jika kita berhadapan antara kehendak pribadi dan kehendak Allah dan Rasul Nya, maka seperti bunyi ayat 36 surah al Ahzab, Allah berfirman, ” Tidaklah patut/wajar bagi orang yang beriman laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka….”. Jika menghadapi dua hal yang sulit, pilihlah yang termudah, selama tidak bertentangan dengan syara’. Jika menghadapi dua hal yang keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya. Yang demikian inilah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. Betapapun, dari sekian banyak keburukan, pilihan harus tetap dijatuhkan. Akhirnya, dalam hal ihwal penting, Rasulullah SAW mengajarkan kita, sebelum menjatuhkan pilihan, bermusyawarahlah dengan orang yang lebih banyak pengetahuannya, serta melaksanakan shalat istikharah-mohon petunjuk kepada Allah tentang pilihan terbaik. Tidak kecewa orang yang melakukan shalat istikhara, dan tidak pula menyesal orang yang bermusyawarah. Wallohu a’lam.