MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Memilih pemimpin July 7, 2009

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

 

n40873079388_4706“Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Allah. Maka siapa yang hendak beriman, maka berimanlah, barangsiapa hendak (menjadi kafir) maka biarlah ia kafir…..” Q.S.18.al Kahfi.A.29 Manusia adalah makhluk yang sedemikian mulia disisi Allah. Ia berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih, bahkan diberi kebebasan menjadi kafir atau beriman. Apapun pilihannya, masing-masing harus mempertanggungjawabkan pilihannya kelak. Bukankah makhluk yang mulia adalah mereka yang hidup, dan yang lebih mulia dari yang hidup adalah mereka yang diberi wewenang untuk memilih dan dipilih, dan yang mulia dari yang memilih dan terpilih, adalah mereka yang dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil pilihannya dan terpilihnya. Kemudian yang termulia diantara mereka adalah yang lulus dalam pertanggungjawaban itu. Kepemimpinan merupakan kenyataan yang penting dalam keberlangsungan dan kesinambungan hidup, lebih-lebih pada kehidupan manusia. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun komunitas tanpa pemimpin, meski bentuk dan mekanisme pengangkatan dan penggantiannya sangat beragam. Dalam terminologi al Quran dan al Sunnah kepemimpinan sering diungkapkan dengan istilah-istilah : imam, malik, khalifah, amir. Dan gelarnya pun beragam serta berkembang, terutama dalam terminologi politik, kepemimpinan diartikan juga sebagai sulthon, syeikh, dan rois. Namun fungsi jabatannya tetap, yaitu untuk melindungi masyarakat dengan menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia/hirasatu al din wa siasat al dunia, menyuruh (rakyat) untuk berbuat kebaikan dan mencegah (rakyat) dalam berbuat kerusakan/al amru bil ma’ruf wa al nahyi ‘anil munkar. Mengingat betapa pentingnya fungsi tersebut maka kepemimpinan harus dijaga eksistensi/keberadaan dan suksesi/kesinambungannya, meskipun mekanismenya bisa beragam dan berkembang sesuai situasi dan kondisi saat itu. Di kalangan intelektual muslim ada wacana/pemikiran mengenai proses dan mekanisme suksesi kepemimpinan, tetapi setiap wacana yang ada tetap mengacu kepada ketentuan syar’i. Sesuai telaah sejarah, ragam wacana suksesi tersebut ada tiga cara yang dilakukan; Pertama, melalui pemilihan langsung. Kedua, pemilihan tidak langsung. Ketiga, penunjukan langsung oleh pimpinan sebelumnya. Keragaman mekanisme suksesi ini telah terjadi semenjak masa khulafa’ al rasyidin dan sampai sekarang, dan di beberapa negara-negara Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mekanisme suksesi kepemimpinan bukan sesuatu yang baku. Dan ketidak bakuan mekanisme itu sendiri justru mencerminkan fleksibelitas tuntunan ajaran Islam. Karena kepemimpinan bukan tujuan. Kepemimpinan adalah sekadar alat dan jalan untuk melindungi masyarakat agar kehidupannya dapat mencapai maslahat dan terhindar dari kemudharatan/ dar al mafasid muqaddam ‘ala jalib al mashalih. Islam menuntun umatnya agar memilih dan mengangkat pemimpin. Tidak hanya dalam suatu masyarakat bangsa yang luas dan menetap dalam satu wilayah. Dalam perjalanan di tengah padang pasir sekalipun, walau hanya bertigapengangkatan pemimpin diperlukan. Hal ini sesuai sabda Nabi SAW, “Apabila kamu dalam perjalanan, walau dipadang pasir, maka hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai pemimpin”. H.R. Abu Daud. Dalam hadis yang lain sebagaimana diriwayatkan, Nabi SAW memperingatkan, ‘Barangsiapa yang memilih seseorang, sedang ia mengetahui bahwa ada orang yang lebih wajar dari yang dipilihnya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul dan amanat kaum muslimin ‘. Rasulullah SAW juga mengisyaratkan siapa yang harus dipilih, ‘Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atau penguasa atas kalian’. Kalimat yang singkat dari Rasulullah ini dapat mengandung beberapa makna, pertama, seorang penguasa atau pemimpin adalah cerminan keadaan masyarakatnya. Pemimpin atau penguasa yang baik adalah yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya. Sedang masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. Kedua, tidak tergesa-gesa menyalahkan lebih awal pemimpin yang menyeleweng, durhaka atau membangkang. Sebab, pada dasarnya yang salah adalah masyarakat itu sendiri. Bukankah pemimpin atau penguasa adalah cerminan dari keadaan masyarakat nya secara umum ? Al Quran dan al Hadis mengingatkan umat Islam dalam memilih pemimpin atau penguasa pada beberapa aspek normatif berikut; a). Pemimpin haruslah orang yang beriman dan yang mengutamakan keberimanannya, bukan pemimpin yang lebih mencintai kekafiran . S. Attaubah. A.23. b). yang memiliki keluasan ilmu dan kuat perkasa/basthotan fi al ‘lmi wa al jism S. Al Baqarah. A 247, serta mampu memelihara harta negara dan berilmu pengetahuan./hafidzun ‘alim, S.Yusuf. A.55, c). orang yang kuat dan dipercaya/al qowiyu al amin. S.al Qashash.A.26. Kekuatan yang dimaksud, adalah kekuatan dalam berbagai bidang, tidak hanya kekuatan fisik, tapi juga mental. Selanjutnya kepercayaan yang dimaksud, adalah integritas pribadi yang menuntut adanya sifat amanah, sehingga tidak merasa bahwa apa yang ada dalam genggaman tangannya merupakan milik pribadi, tetapi milik masyarakat yang harus dipelihara, sekaligus rela mengembalikannya bila diminta kembali. Dalam sebuah hadis dari Ma’qal bin Yasar al Muzni, Rasulullah SAW bersabda, ‘tidak ada seorang pemimpin yang mengurus urusan kaum muslimin lalu tidak sungguh-sungguh (mengurusnya) dan tidak jujur, melainkan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam surga’. H.R. Muslim. Memang tidak mudah menemukan orang yang dalam dirinya tergabung secara sempurna ke tiga sifat di atas. Umar bin Khattab ra semasa kepemimpinannya pernah mengeluh dan mengadu kepada Allah, ‘ Ya Allah, aku mengadu kepada Mu, kekuatan si fajir (orang yang suka berbuat berdosa) dan kelemahan orang-orang yang kupercaya ‘. Karena itu, harus ada alternatif. Dalam memilih panglima perang, yang harus didahulukan adalah yang memiliki kekuatan, sekalipun keberagamaannya kurang. Karena kekuatannya dapat dimanfaatkan untuk melindungi masyarakat, sedang kelemahan imannya, tidak merugikan orang lain kecuali dirinya sendiri. Tuntutan normatif terhadap setiap fenomena politik yang dijalani umat Islam sepanjang masa, merupakan kenyataan dan keharusan dalam ajaran agama. Kepemimpinan adalah kekuasaan, dan kekuasaan adalah alat untuk menegakkan syari’at (hukum). Akan tetapi perkembangan akan tuntutan itu sepanjang sejarahnya mengalami pasang surut. Dan kita terkadang dihadapkan pada satu situasi yang sulit dalam menjatuhkan pilihan. Di sini, sekali lagi Islam datang dengan tuntunannya. Yang utama, jika kita berhadapan antara kehendak pribadi dan kehendak Allah dan Rasul Nya, maka seperti bunyi ayat 36 surah al Ahzab, Allah berfirman, ” Tidaklah patut/wajar bagi orang yang beriman laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka….”. Jika menghadapi dua hal yang sulit, pilihlah yang termudah, selama tidak bertentangan dengan syara’. Jika menghadapi dua hal yang keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya. Yang demikian inilah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. Betapapun, dari sekian banyak keburukan, pilihan harus tetap dijatuhkan. Akhirnya, dalam hal ihwal penting, Rasulullah SAW mengajarkan kita, sebelum menjatuhkan pilihan, bermusyawarahlah dengan orang yang lebih banyak pengetahuannya, serta melaksanakan shalat istikharah-mohon petunjuk kepada Allah tentang pilihan terbaik. Tidak kecewa orang yang melakukan shalat istikhara, dan tidak pula menyesal orang yang bermusyawarah. Wallohu a’lam.

 

3 Responses to “Memilih pemimpin”

  1. agus setiyadi Says:

    sby menang nih …tinggal mempersiapkan singa2 Allah di lima tahun ke depan….
    dalil nya jangan di tulis nmr nya aja biar langsung bisa baca ^_^

  2. miphz Says:

    InsyaAllah, LANJUTKAN…

  3. aulia ridwan Says:

    istrinya pak sby ama istrinya pak budiono kan ga berjilbab???
    kenapa, kenapa ada konten itu di blogmu???

    kan gak sesuai ama kamu???
    apakah tanda yang kelihatan itu masih membutakan???
    atau karena takdim yang tidak berdasar kepada ustad2???

    astaghfirullah…. 3x


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s