MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Muhasabah menuju Bulan Ramadhan July 29, 2009

Filed under: artikel mini,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

 B
Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini ada bebrapa kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.

Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.

Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ;

Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)

Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.

Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan

Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

 

11. Semakin jarang bershadaqah

 

12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

 

13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

 

15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

 

16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

 

Keistimewaan bulan suci Ramadhan

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

images

 1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. ” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ ” (HR. Ahmad)'”

 

Puasa dibulan sya’ban menuju Ramadhan

Filed under: artikel mini,dakwah — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul
Tags:

CA5V8UTTSaudaraku fillah,

Tak terasa bulan ramadhan semakin dekat menghampiri kita,sepatutnyalah kita menyambut bulanmulia ini dengan gembira,gembira dari hati dan iman terdalam,semoga Allah memberikan kita kesempatan mengarungi samudra Ramadhan,mengail pahala dan menebar jala kebaikan bagi sekeliling kita.Salah satu bukti kecintaan kita akan Ramadhan adalah mempersiapkan diri menemuinya sebaik-baiknya,salah satunya adalah kita mulai sejak bulan Sya’ban ini membiasakan puasa sunnah sebanyak-banyaknya karena demikianlah yang dilakukan oleh Baginda Rosulullah SAW dan para sahabat.

 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلُ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلُ لاَ يَصُوْمُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامً مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ

 

“Adalah Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan/pernah berpuasa, maka saya tidak pernah melihat Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan selain bulan Ramadhan dan tidaklah saya melihat paling banyaknya beliau berpuasa di bulan Sya’ban.” (bukhari dan muslim)

Inilah salah satu indikasi kecintaan Ramadhan yang terkadang kita lalaikan,padahal bulan sya,ban adalah bulan dimana Rosulullah melakukan puasa sunnah paling banyak,karena kecintaan akan menyambut Ramadhan maka Baginda Rosulullah dan para sahabat memulikan bulan sya,ban,menempa diri di bulan ini  ,membina diri,mensucikan hati,agar Ramadhan benar-benar bersama kita dan kita telah mempersiapkan diri untuknya.

Demikian tulisan singkat ini saya buat semoga bermanfaat,saudaraku selamat berpuasa sunnah di bulan Sya’ban semoga Allah mempertemukan kita di bulan Ramadhan…amin

 

Memilih pemimpin July 7, 2009

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

 

n40873079388_4706“Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Allah. Maka siapa yang hendak beriman, maka berimanlah, barangsiapa hendak (menjadi kafir) maka biarlah ia kafir…..” Q.S.18.al Kahfi.A.29 Manusia adalah makhluk yang sedemikian mulia disisi Allah. Ia berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih, bahkan diberi kebebasan menjadi kafir atau beriman. Apapun pilihannya, masing-masing harus mempertanggungjawabkan pilihannya kelak. Bukankah makhluk yang mulia adalah mereka yang hidup, dan yang lebih mulia dari yang hidup adalah mereka yang diberi wewenang untuk memilih dan dipilih, dan yang mulia dari yang memilih dan terpilih, adalah mereka yang dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil pilihannya dan terpilihnya. Kemudian yang termulia diantara mereka adalah yang lulus dalam pertanggungjawaban itu. Kepemimpinan merupakan kenyataan yang penting dalam keberlangsungan dan kesinambungan hidup, lebih-lebih pada kehidupan manusia. Dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun komunitas tanpa pemimpin, meski bentuk dan mekanisme pengangkatan dan penggantiannya sangat beragam. Dalam terminologi al Quran dan al Sunnah kepemimpinan sering diungkapkan dengan istilah-istilah : imam, malik, khalifah, amir. Dan gelarnya pun beragam serta berkembang, terutama dalam terminologi politik, kepemimpinan diartikan juga sebagai sulthon, syeikh, dan rois. Namun fungsi jabatannya tetap, yaitu untuk melindungi masyarakat dengan menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia/hirasatu al din wa siasat al dunia, menyuruh (rakyat) untuk berbuat kebaikan dan mencegah (rakyat) dalam berbuat kerusakan/al amru bil ma’ruf wa al nahyi ‘anil munkar. Mengingat betapa pentingnya fungsi tersebut maka kepemimpinan harus dijaga eksistensi/keberadaan dan suksesi/kesinambungannya, meskipun mekanismenya bisa beragam dan berkembang sesuai situasi dan kondisi saat itu. Di kalangan intelektual muslim ada wacana/pemikiran mengenai proses dan mekanisme suksesi kepemimpinan, tetapi setiap wacana yang ada tetap mengacu kepada ketentuan syar’i. Sesuai telaah sejarah, ragam wacana suksesi tersebut ada tiga cara yang dilakukan; Pertama, melalui pemilihan langsung. Kedua, pemilihan tidak langsung. Ketiga, penunjukan langsung oleh pimpinan sebelumnya. Keragaman mekanisme suksesi ini telah terjadi semenjak masa khulafa’ al rasyidin dan sampai sekarang, dan di beberapa negara-negara Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mekanisme suksesi kepemimpinan bukan sesuatu yang baku. Dan ketidak bakuan mekanisme itu sendiri justru mencerminkan fleksibelitas tuntunan ajaran Islam. Karena kepemimpinan bukan tujuan. Kepemimpinan adalah sekadar alat dan jalan untuk melindungi masyarakat agar kehidupannya dapat mencapai maslahat dan terhindar dari kemudharatan/ dar al mafasid muqaddam ‘ala jalib al mashalih. Islam menuntun umatnya agar memilih dan mengangkat pemimpin. Tidak hanya dalam suatu masyarakat bangsa yang luas dan menetap dalam satu wilayah. Dalam perjalanan di tengah padang pasir sekalipun, walau hanya bertigapengangkatan pemimpin diperlukan. Hal ini sesuai sabda Nabi SAW, “Apabila kamu dalam perjalanan, walau dipadang pasir, maka hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai pemimpin”. H.R. Abu Daud. Dalam hadis yang lain sebagaimana diriwayatkan, Nabi SAW memperingatkan, ‘Barangsiapa yang memilih seseorang, sedang ia mengetahui bahwa ada orang yang lebih wajar dari yang dipilihnya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul dan amanat kaum muslimin ‘. Rasulullah SAW juga mengisyaratkan siapa yang harus dipilih, ‘Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atau penguasa atas kalian’. Kalimat yang singkat dari Rasulullah ini dapat mengandung beberapa makna, pertama, seorang penguasa atau pemimpin adalah cerminan keadaan masyarakatnya. Pemimpin atau penguasa yang baik adalah yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya. Sedang masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. Kedua, tidak tergesa-gesa menyalahkan lebih awal pemimpin yang menyeleweng, durhaka atau membangkang. Sebab, pada dasarnya yang salah adalah masyarakat itu sendiri. Bukankah pemimpin atau penguasa adalah cerminan dari keadaan masyarakat nya secara umum ? Al Quran dan al Hadis mengingatkan umat Islam dalam memilih pemimpin atau penguasa pada beberapa aspek normatif berikut; a). Pemimpin haruslah orang yang beriman dan yang mengutamakan keberimanannya, bukan pemimpin yang lebih mencintai kekafiran . S. Attaubah. A.23. b). yang memiliki keluasan ilmu dan kuat perkasa/basthotan fi al ‘lmi wa al jism S. Al Baqarah. A 247, serta mampu memelihara harta negara dan berilmu pengetahuan./hafidzun ‘alim, S.Yusuf. A.55, c). orang yang kuat dan dipercaya/al qowiyu al amin. S.al Qashash.A.26. Kekuatan yang dimaksud, adalah kekuatan dalam berbagai bidang, tidak hanya kekuatan fisik, tapi juga mental. Selanjutnya kepercayaan yang dimaksud, adalah integritas pribadi yang menuntut adanya sifat amanah, sehingga tidak merasa bahwa apa yang ada dalam genggaman tangannya merupakan milik pribadi, tetapi milik masyarakat yang harus dipelihara, sekaligus rela mengembalikannya bila diminta kembali. Dalam sebuah hadis dari Ma’qal bin Yasar al Muzni, Rasulullah SAW bersabda, ‘tidak ada seorang pemimpin yang mengurus urusan kaum muslimin lalu tidak sungguh-sungguh (mengurusnya) dan tidak jujur, melainkan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam surga’. H.R. Muslim. Memang tidak mudah menemukan orang yang dalam dirinya tergabung secara sempurna ke tiga sifat di atas. Umar bin Khattab ra semasa kepemimpinannya pernah mengeluh dan mengadu kepada Allah, ‘ Ya Allah, aku mengadu kepada Mu, kekuatan si fajir (orang yang suka berbuat berdosa) dan kelemahan orang-orang yang kupercaya ‘. Karena itu, harus ada alternatif. Dalam memilih panglima perang, yang harus didahulukan adalah yang memiliki kekuatan, sekalipun keberagamaannya kurang. Karena kekuatannya dapat dimanfaatkan untuk melindungi masyarakat, sedang kelemahan imannya, tidak merugikan orang lain kecuali dirinya sendiri. Tuntutan normatif terhadap setiap fenomena politik yang dijalani umat Islam sepanjang masa, merupakan kenyataan dan keharusan dalam ajaran agama. Kepemimpinan adalah kekuasaan, dan kekuasaan adalah alat untuk menegakkan syari’at (hukum). Akan tetapi perkembangan akan tuntutan itu sepanjang sejarahnya mengalami pasang surut. Dan kita terkadang dihadapkan pada satu situasi yang sulit dalam menjatuhkan pilihan. Di sini, sekali lagi Islam datang dengan tuntunannya. Yang utama, jika kita berhadapan antara kehendak pribadi dan kehendak Allah dan Rasul Nya, maka seperti bunyi ayat 36 surah al Ahzab, Allah berfirman, ” Tidaklah patut/wajar bagi orang yang beriman laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka….”. Jika menghadapi dua hal yang sulit, pilihlah yang termudah, selama tidak bertentangan dengan syara’. Jika menghadapi dua hal yang keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya. Yang demikian inilah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW. Betapapun, dari sekian banyak keburukan, pilihan harus tetap dijatuhkan. Akhirnya, dalam hal ihwal penting, Rasulullah SAW mengajarkan kita, sebelum menjatuhkan pilihan, bermusyawarahlah dengan orang yang lebih banyak pengetahuannya, serta melaksanakan shalat istikharah-mohon petunjuk kepada Allah tentang pilihan terbaik. Tidak kecewa orang yang melakukan shalat istikhara, dan tidak pula menyesal orang yang bermusyawarah. Wallohu a’lam.

 

kiat mengubah bangsa,mulai dari diri sendiri,mulai dari yang paling kecil,mulai saat ini juga! April 8, 2009

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:

 

hakpilihpemilu2009Saat- saat yang dinantikan akan segera tiba,dimana lebih dari 200 juta penduduk Indonesia akan mengukir kembali sejarah baru berupa pemilihan para pemimpin baru baik di DPR maupun Presiden.Betapa kita sering mengeluhkan kondisi bangsa kita yang dipenuhi oleh tangan=tangan yang lalai dalam menjalankan kepemimpinannya,baik berbentuk korupsi,diskriminasi,kemalasan,dan moral yang makin tidak bisa di teladani…keluhan-keluhan saja sepertinya tidak akan merubah nasib bangsa kita,jika kita terus bertanya kenapa masih seperti “itu-itu “saja semua elit politik menjalankan amanahnya,maka kita mungkin lebih baik menyalahkan diri kita,kenapa lima tahun yang lalu kita juga milih partai yang “itu-itu” juga,maka hasilnya akan stagnan “itu itu”juga.

Saatnyalah saudaraku masih belum terlambat…masih ada waktu 2 harilagi untuk berfikir kembali partai mana yang akan kita pilih,jangan tertipu dengan tawaran sesaat.Saya jadi teringat perkataan Bapak fahri hamzah mantan ketua KAMMI 2008,yang namanya masyarakat sejahtera itu bukan dinilai dari banyaknya harta,memang negara dan pemerintah tidak akan memberikan kepada rakyat uang yang banyak.Tapi jika telpon ada dimana-mana,jalan-jalan bagus,air di kota dan didesa mempunyai sarana yang baik,pemerintah yang jujur dan amanah,transportasi lancar,semua sarana-sarana umum lancar maka itulah yang dikatakan sejahtera,rakyat tidak menuntut apa-apa selain sarana-sarana menjalankan kehidupan sehari-hari tadi terpenuhi.

maka belumkah lagi saatnya kita sadar,dan melihat dengan hati nurani dan kecerdasan dalam berfikir mana partai yang benar-benar mencintai rakyat dan menginginkan perubahan yang signifikan dalam  rumah aspirasi (baca DPR)  yang sepertinya sudah terkotori,alngkah malangnya dan menyedihkan kalau hanya mencontreng saja kita ogah-ogahan,tidak mau tahu,cuek dengan urusan politik, ada yang golput(malah berkata aku golput karena Allah) dan yang paling menyedihkan bila mengajak orang lain golput(bukannya memberi pendidikan politik yang bagus) maka jangan harap…dan jangan pernah berharap akan terjadi perubahan dinegri ini.

Sudah saatnya mata dan hati kita kita buka ..milih partai jangan coba-coba..jangan main api (nanti terbakar)…tapi milih partai merupakan bentuk partisipasi kita secara individual melakukan perubahan di tubuh pemerintahan Indonesia.

Ada beberapa trik yang ingin saya bagikan secara pribadi kepada anda yang menjadi pemilih pemula,atau yang masih kebingungan,atau yang niat golput tapi gak jadi ^_^  simak dan teliti baik-baik apakah ciri-ciri ini ada dalam tubuh partai yang akan anda pilih :

simpel saja….. apakah sholat shubuh kader-kadernya ke mesjid? terutama kader yang laki-laki…

kenapa mesti sholatnya?

karena sejahtera dan baik buruknya negara ditentukan oleh dua pilar, pemimpin dan sistem yang dijalankan. Maka jika pemimpinnya baik tapi sistemnya buruk tidak akan merubah keadaan secara mendasar. Sebaliknya, sistemnya baik tapi pemimpin buruk , juga akan membawa kegagalan. Jadi kita membutuhkan dua-duanya, pemimpin yang baik ,amanah, dalam sistem yang baik.,nah apa ubungannya dengan sholat shubuh?(baca Aja dibuku Misteri Sholat Shubuh) ^_^

Kewajiban memilih pemimpin yang baik tidak bisa dilepaskan dari kewajiban menerapkan sistem yang baik. Dalam Fatwa MUI hasil ijtima’ ulama dengan tegas dikatakan syarat pemimpin yang harus dipilih antara lain beriman dan bertakwa serta memperjuangkan kepentingan rakyat. . Pemilih cerdas dan ideologis, tentu tidak hanya berhenti pada sikap selektif untuk memilih. Tapi dengan sungguh-sungguhmempersiapkan dan memperjuangkan sistem baik yang berdasarkan syariah itu bisa terwujud. Upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kembali sistem pemerintahan yang bersih justru mencerminkan sikap yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara.

Pemilih yang cerdas dalam pandangan Islam haruslah mendasarkan aktifitas politiknya berdasarkan syariah Islam. Bukan semata-mata kepentingan pragmatis atau kemashlahatan yang berdasarkan hawa nafsu. Syariah Islam harus menjadi standar aktivitas politiknya, termasuk ketika melakukan perubahan untuk menegakkan sistem Islam.

Rasulullah saw telah mencontohkan untuk membangun sistem haruslah melakukan aktivitas politik yang bermuara pada tiga hal: terciptanya kader dakwah, terwujudnya kesadaran masyarakat yang menyadari dan bergerak menuntut perubahan, terdapat elit politik strategis (ahlul quwwah) yang mendukung sistem  Ketiga inilah yang menjadi kunci dasar dari perubahan masyarakat hingga terwujudnya pemerintahan yang benar-benar sesuai dengan harapan (memberi keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat)

Dalam rangka itu Rasulullah melakukan aktifitas politik yang menonjol antara lain membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam sehingga terjadi perubahan pemikiran di tubuh umat. Beliau juga menyerang ide-ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang rusak di tengah masyarakat, membongkar kepalsuannya dan pertentangannya dengan Islam .

Rasulullah saw juga membongkar kedzoliman dan kebejatan penguasa-penguasa yang ada ditengah-tengah umat . Rosullah saw menyerang Abu Jahal dan Abu Lahab dengan mengungkap kedzoliman dan penghianatannya terhadap umat. Disamping itu Rasulullah saw mendatangi elit-elit politik dari berbagai kabilah yang berpengaruh.

Dengan cara itulah hukum-hukum kebenaran bisa ditegakkan lewat kekuasaan. Walhasil, pemilih yang cerdas juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rasulullah saw. Sebab hanya dengan mengikuti cara Rasulullah saw kemenangan akan diraih dan diberkahi Allah swt.

Jadi berhati-hatilah dalam memilih partai pada tanggal 9 April nanti,selamat memilih sebut bismillah dan tawakkal alallah contreng POKANTAS (pojok kanan atas) sekali buka aja lipatan kertasnya akan segera terlihat disana PKS no 8,mudahkan?

2emblem_fire12801

 

renungan bagi remaja islam February 13, 2009

Filed under: artikel mini — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Feb
Tags:

caavwd6b1

Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.

Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.

Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya,
“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).
Valentine?s Day adalah salah satu contoh hari besar di luar Islam yang pada hari itu sebagian kaum muslimin ikut memperingatinya, terutama kalangan ramaja dan pemuda. Padahal Valentine -menurut salah satu versi sebuah ensiklopedi- adalah nama pendeta St. Valentine yang dihukum mati karena menentang Kaisar Claudius II yang merlarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu kiranya perlu dijelaskan kepada kaum muslimin mengenai hukum merayakan hari Valentine atau yang sering disebut sebagai hari kasih sayang.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata?ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata?ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran. Padahal dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah subhanahu wata?ala.”

Abu Waqid meriwayatkan, “Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan, “Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena alasan berikut:
Pertama; ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.
Kedua; ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) -semoga Allah meridhai mereka-. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah subhanahu wata?ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”

Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ (loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.

Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya telah membaca ayat,artinya,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)

Bagaimana mungkin ia memohon kepada Allah subhanahu wata?ala agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri justru menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah subhanahu wata?ala telah berfirman, yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (al-Maidah:51)

Di dalam ayat lainnya, artinya,
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

Ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku!! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah subhanahu wata?ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wata?ala berfirman yang artinya,
“Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling berkorban karena Aku dan yang saling mengunjungi karena Aku.” (HR. Ahmad).(fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

 

  • Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.  

  • Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya.  

  • Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang di luar Islam.  

  • Valentine’s Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentin’s

 

akhwatfillah

dari berbagai sumber……adikku yang remaja.generasi Islam sudah saatnya gaul dengan Islam dan berhijrah dari merayakan valetine day’s