MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

Taubat & kondisi hati October 21, 2009

Filed under: dakwah,halaqoh,Nasehat Rabbani,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Oct

 HATI adalah organ yang paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan oleh Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang. Niat yang ikhlas itu akan diberi pahala oleh Allah.

Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya adalah membabitkan seluruh anggota tubuh badan manusia. Maka, akan lahirlah penyakit masyarakat berpunca dari hati yang sudah rosak itu.

Justeru, hati adalah amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan untuk menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat.

Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana dosa. Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: “Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya.

Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam.” (Hadis riwayat Ibn Majah).

Hadis ini selari dengan firman Allah yang bermaksud “Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka telah diseliputi kekotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan.” (Surah al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman yang bermaksud “Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya.

“Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Baqarah, ayat 74).

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahawa batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah.

Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Perkara yang paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlakulah kemusnahan yang amat besar terhadap manusia.

Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan. Inilah natijahnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati kita. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan oleh Allah pada akhirat kelak.

Persoalannya sekarang, kenapa hati mati? Hati itu mati disebabkan perkara berikut:

Pertama: Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah.

Allah berfirman bermaksud “Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Surah al-Zumar, ayat 22).

Kedua: Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitulah juga hati.

Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya.

Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri.

Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir).

Firman Allah bermaksud “Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah al-Ra’d, ayat 28)

Firman-Nya lagi bermaksud “Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik.” (Surah al-Syura, ayat 88 – 89)

Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
“Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan,
Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu,
Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu,
..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu.”

Advertisements
 

GEMPA DI BUMI RANAH MINANG October 4, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani,news,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Oct

gempapa 

Saudarakufillah,

Tanggal 30 September 2009 pukul 17.16  kita semua dikejutkan oleh sebuah berita bahwa terjadi musibah gempa di Padang pariaman sumatra Barat dengan kekuatan 7,6 sk,lebih besar dari gempa di Tasikmalaya.Sungguh sebuah kejadian yang manyayat hati dan memberi duka terdalam bagi mereka yang terkena musibah.sebuah tragedi yang terkadang tidak kita ketahui dengan kuasa Allah bisa terjadi setiap saat,setiap detik,menit,jam..masha Allah semuanya waktu adalah rahasia Allah semata saudaraku.

Mungkin kita merunut kembali rentetan musibah yang terjadi di negri indonesia tercinta,yang sebagian besar penduduknya adalah muslim dan mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang layak disembah.

musibah-musibah yang terjadi mulai dari tragedi stunami di Aceh,gempa di Nias dan gempa pertama di Padang,menyusul kejadian lumpur LAPINDO,yang tak kunjung selesai sampai hari ini,disusul gempa di bantul,gempa di Tasikmalaya dan datanglah musibah gempa di Padang pariaman sumatra barat yang saat ini tercatat sudah lebih dari 800 korban tewas,belum lagi ditemukan yang tertimbun bangunan,bahkan ada 3 desa di pinggir daerah pariaman yang tenggelam ke tanah….astaghfirullah….

 

Saudaraku…

Ada sebuah renungan ketika terjadi gempa di bumi ranah minang,terjadi pada pukul 17 lewat 16 menit,tidak ada salahnya kita merenungi  ayat Allah Al Qur’anul karim surah 17 :16  sesuai dengan jam kejadian gempa di ranah minang,Allah berfirman dalam QS 17:16

“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negri,Maka kami perintahkan kepada orang2 yang hidup mewah di negri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negri itu,maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan) Kami,kemudian Kami hancurkan negri itu sehancur-hancurnya.”

 

Ayat diatas menjadi perenungan yang mendalam saudaraku,betapa Allah ternyata telah memberikan warning agar Dia tidak mendatangkan musibah di negri ini,tetapi kebanyakan manusia bersifat ingkar.Kehidupan ranah minang yang sangat indah sebelumnya kenapa jadi berantakan….negri muslim yang terkenal dengan Adaik basandi syarak,syarak basandi kitabullah…(adat berdasarkan syariat,syariat berdasarkan Kitabullah).Sungguh sebuah kata yang Indah,sebagaimana Aceh yang menyatakan diri sebagai Serambi Mekkah…tapi kenapa justru di tempat yang bersimbol2 Islam dan Islami itu Allah memberikan pelajaran kepada kita,kenapa bukan daerah2 orang kafir,atau daerah-daerah yang sudah jelas kemaksiyatan terang2an  seperti yang terjadi di beberapa daerah.

 

Saudarakufillah yang berada di Ranah minang,

Jangan berkecil hati bukankah bukti kasih sayang Allah itu ukurannya bukan dunia,tapi akhirat masa depan yang kekal.Mungkin bisa menjadi pelajaran dan isntrospeksi diri terhadap apa yang telah di perbuat,mulai dari orang2 kaya sampai yang termiskin sekalipun.

Ada hal-hal yang kecil terkdang bisa saja mendatangkan musibah di negri muslim ini,bisa jadi kita enggan mengeluarkan zakat,infak sedekah,hingga ALlah ambil harta kita dengan cara yang lain,ingat2lah saudaraku mungkin kita pernah menghardik/meninggikan suara kepada ayah ibu kita,mungkin kita pernah menghardik anak yatim piatu,memandang remeh orang2 miskin dan enggan menolong mereka,mungkin kita pernah menghardik para anak2 yang mengamen dijalanan,memandang sinis kepada peminta sumbangan mesjid.

 

Saudarakufillah,

Kebiasaan kita para perantau ranah minang selalu memberikan bantuan membangun mesjid,sementara mesjid yang satu lagi yang sudah jadi kosong tanpa penghuni,sebagaimana pengalaman seorang adik yang hendak sholat di sebuah mesjid di Pariaman tapi terpaksa menunggu di luar,karena seorang ibu menjadi imam makmum karena tidak ada laki2 yang hadir sholat jemaah…memprihatinkan sekali saudaraku.Belum lagi para oknum pemerintah dan pejabat yang suka membuat laporan2 palsu tentang hasil2 kerjanya,suka hidup berfoya2 sementara tetangganya menangis menahan lapar.. 😦

 

Dimanakah nurani kita saat itu saudaraku….

Para muslimah mulai keluar malam tanpa keperluan,pergi berdua-duaan dengan laki2 yang tidakmuhrim,enggan memakai jilbab,menutup aurat,lebih suka bersenang2 dengan teman2 daripada berbakti  dengan ibu bapa yang membesarkannya,perjudian tersembunyi dan minuman keras serta kafe remang2 yang semakin ramai..semua dilakukan demi sebuah kesenangan dan mendapatkan harta dunia…padahal Allah sudah menjamin jika kita bertaqwa maka Allah akan carikan jalan2 keluar dari semua permasalahan kita.

 

Renungilah saudaraku…istighfarlah…..jangan2 kita bagian dari orang2 yang menanam “saham musibah” di negri ini yang juga mengakibatkan penderiataan orang banyak.laki-laki yang diam2 menonton film porno dan melakukan onani,wanita yang melakukan masturbasi untuk kesenangan sesaat,memotong2 bantuan keuangan yang diamanahkan kepadanya,tidak peduli kepada kemaksiyatan yang terjadi di sekelilingnya,acuh dengan fatwa para ulama,bahkan memarahi setiap ada fatwa yang mengatur kehidupannya dan dia tidak suka terhadp itu,menjual dan menyebarkan serta mengkonsumsiVCD2 porno,penipuan,bank2 46 (pinjam 4 bayar 6) yang berkeliaran bebas tanpa gangguan,,,,mencekik leher petani miskin,pedagang kaki lima yang tidak tahu lagi bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya.Semua karena kurangnya keyakinan kepada Allah JIKA KAMU BERTAQWA MAKA ALLAH AKAN MENCARIKAN JALAN2 KELUAR DARI SETIAP MASALAH HIDUP YANG KITA HADAPI” atau jangan2 Al Qur’an karim ini hanya tinggal irama musabaqah saja sementara esensinya tak menyentuh hati kita lagi….istighfarlah saudaraku…astaghfirullah…

Saudaraku..

Istighfarlah ..sesungguhnya ALlah maha pengampun dan penyayang sebesar apapun dosa2 kita,kembalilah kepadaNya yang maha kasih dan sayangnya,yang memberi kita peringatan dikala kita lupa dan bermaksiyat.Kembalilah saudaraku..kita sama2 berbenah..dekatilah orang2 sholeh,mintalah fatwa dari  hati nuranimu sebelum melakukan sesuatu…yakinlah saudaraku Allah selalu bersama kita dalam duka dan ujian2 yang kita hadapai,anggaplah itu sebagai cambuk dari Allah pembuka hati yang selama ini tertutup dan tidak ada furqan didalamnya.

 

Buat saudaraku yang laki2

mulailah menyuburkan Mesjid dengan sholat 5 waktu didalamnya,bermunajat kepada Allah mudah2an Allah akan memberikan keberkahan rezky dan keberkahan bagi anak istri yang di tinggal dirumah….

 

Saudaraku…mari beristigfar minta ampun kepada Allah…

Astagfirullah….

 

Selamat bagi yang telah “berpuasa” September 21, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Sep

8

Bismillahirrahmanirrahim…

 Allahu akbar…Allahu akbar…Allahu Akbar…laa ila ha illallah…Allahu Akbar…Allahu Akbar walillahil hamd.

Yang terjadi ketika melantun takbir,mulut terucap sebatas lisan,tiada dipahambegitu dalam makna hakikat yang tertuang.Sebulan Ramadhan telah berlalu,syawalpun menjelang,setiap insan sibuk dengan berbagai masakan,pakaian baru dan juga silaturrahim dengan handai tolan.

 

Subhanallah indahnya hari-hari ramadhan yang telah kita lewati,menjaga lisan dari ghibah,fitnah,adu domba,kata2 yang menyakitkan,dan menyibukkannya dengan zikir kepada Allah serta tilawah Al Qur’an.begitu juga mata,tangan,telinga..semua seakan kompak menghabiskan waktu2 terindah dalam Ramadhan,di hari lebaran mulia ini,seyogianya semua kegiatan2 di bulan Ramadhan bukan sekedar memory indah yang tinggal kenangan.

 

Sesungguhnya kemenangan ramadhan hanya di peroleh oleh orang2 yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah Ramadhan dengan menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang oleh Allah,kemenangan diraih oleh mereka yang benar-benar melaksanakan ramadhan dengan penuh keimanan kepada Allah.

 

Jadikanlah 1 bulan ramadhan yang telah terlewat sebagai bekal kita selama sebelas bulan ke depan,menjalankan hidup harian dengan penuh daikir kepada Allah yang maha Besar.dihari lebaran mulia ini jangan pula kita disibukkan dengan perbuatan sia-sia,berdua2an dengan lawan jenis yang gak halal,pergi ke hiburan2 yang berbau maksiyat,atau kegiatan2 yang melalaikan kita dari mengingatNya.

 

Duhai rasa sedih hati ditinggal ramadhan,semoga kita termasuk hamba Allah yang beroleh kemenangan,akhirnya selamat meraih kemenanganbagi anda yang telah berpuasa.

 

Blog sederhana akhwatfillah mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDULFITRI 1430 H,TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM,MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ^_^

Doakan terus ya,semoga ana tetap sempat update blog sederhana ini dengan hal2 yang lebih bermanfaat lagi bagi pencerahan iman kita.amin.Uhibbukumfillah,uhibbukum fidda’wah,fi sabilillah wa fi ayyi makan fillah….

 

Al waqti laka saif June 12, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jun

wAktu itu ibarat pedang,terkadang kita lupa akan hal yang satu ini.Subhanallah..Allah memebri kita akal untuk berfikir menggunakan waktu.maka jadikanlah kita pencinta waktu yang menggunakan waktu dengan amalan kebaikan sekecil apapun,hingga waktu itu tidak akan melukai kita berupa penyesalan yang mendalam,waktu-waktu orang2 beriman sesungguhnya telah di tuliskan dalam surat al ashr’ :1-3,bahkan Allah sendiri bersumpah demi waktu bahwa semua ummat manusia akan merugi kecuali 3 golongan saja :

1.orang2 yang beriman (yang senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap waktu yang dijalaninya)

2.Beramal shaleh (menggunakan waktu sebaik-baiknya dan melakukan amalan sholeh baik berupa sholat,sedekah,zakat,haji,ibadah-ibadah sunnah dan lain-lain)

3.Yang saling menasehati dalam kebaikan (memperbaiki diri dan mengajak orang lain berbuat kebaikan,menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah)

sepintas kita lihat surat al ashr yang cuma 3 ayat diatas ternyata memberi makna yang luar biasa,betapa kita terkadang sering lupa menggunkan waktu-waktu yang melimpah dengan sia-sia.semoga setelah membaca ini kita sama-sama bertekad menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dijalan Allah.amin

Arar city,5.40 pm
Saat lihat-lihat galerinya habib

 

Pelajaran dari sejarah kekalahan April 10, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:
n1516873645_128787_4438Hudzaifah.org – Laki-laki pemberani itu terbujur kaku dengan dada tercabik-cabik. Sadis. Itulah jasad Hamzah bin Abdul Muththalib, paman dan saudara sepersusuan Rasulullah Saw yang syahid dalam Perang Uhud. Tangis Rasulullah Saw pun pecah. Isak tangisnya terdengar seperti rintihan. Walaupun dengan kesedihan yang tiada terkatakan, akhirnya, jenazah “Tuan Para Syuhada” itu dikafankan dengan kafan yang tidak sampai menutup kedua kakinya, lalu dikuburkan bersama saudara sepupu dan sepersusuannya, Abdullah bin Jahsyi, dalam satu liang.

“Tidak pernah beliau terlihat sedih sesedih itu. Tidak juga pernah terlihat beliau menangis sekeras itu,” kata Ibnu Mas’ud. Panorama para syuhada itu memang sangat mengiris hati. Di sana terbaring 65 orang sahabat beliau dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan seorang dari kaum Yahudi yang telah memeluk Islam. Angka 70 orang syuhada itu terlalu banyak. Bandingkanlah dengan syuhada Badar yang hanya berjumlah 14 orang, atau dengan jumlah korban tewas dari kaum Musyrikin yang hanya berjumlah 37 orang.

Mungkin, memang tidak tepat menyebut peristiwa itu sebagai kekalahan, setidak-tidaknya jika dilihat dengan lensa keimanan. Akan tetapi, biarlah dalam hitungan peperangan kita menganggap itu sebagai sebuah kekalahan. Itulah yang membuat Rasulullah Saw begitu terpukul, begitu sedih, sampai beliau menangis tersedu-sedu; sebuah tangis yang tidak pernah diulanginya sepanjang hidupnya. Bahkan, beberapa hari sebelum beliau wafat, beliau menyempatkan diri mengunjungi kuburan para syuhada Uhud. Para sahabat yang menyaksikan kesedihan beliau itu merasakan kesedihan yang lebih mendalam, sekaligus diliputi perasaan bersalah yang mengguncang batin mereka.

Kekalahan yang Mengilhami

Meskipun demikian, Allah Swt tidak menginginkan mereka berlarut dalam kesedihan. Memang kesedihan adalah tabiat hati dan hak jiwa, tetapi selalu ada batas yang wajar untuk sebuah emosi. Maka, di tengah deraan kesedihan itulah Allah Swt menurunkan bimbingan-Nya. Itulah salah satu cara Allah Swt memberikan pelajaran: peristiwa kehidupan adalah momentum yang paling tepat untuk mengajarkan nilai-nilai atau kaidah-kaidah tertentu, dan bahwa sejumlah nilai atau kaidah tertentu hanya dapat dipahami dengan baik melalui peristiwa nyata dalam kehidupan.

Maka, berbicaralah Allah SWT tentang peperangan Uhud itu dalam 60 ayat, yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran dan dimulai dari ayat 121 hingga ayat 179. Penjelasan itu diawali dengan sebuah rekonstruksi yang menjelaskan latar belakang psikohistoris Perang Uhud (ayat 121) dan diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut (ayat 179). Allah SWT mengatakan,

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)

Dalam runtut penjelasan panjang itu, Allah Swt hendak mengajarkan kaum Muslimin cara yang tepat untuk menghadapi dan menyikapi kekalahan. Bahwasanya, bencana yang lebih besar dari kekalahan adalah apabila kita kehilangan kemampuan menentukan sikap dalam menghadapi kekalahan itu sendiri.

Pelajaran pertama. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mempertahankan keseimbangan jiwa manakala kekalahan itu datang. Kekalahan, dalam berbagai medan kehidupan, sangat sering melumpuhkan, bahkan mematikan ketahanan jiwa dan semangat perlawanan seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Itulah ancaman paling berbahaya yang menimpa orang-orang yang kalah: tiba-tiba mereka kehilangan rasa percaya diri, kehilangan semangat untuk tetap bertahan dan terus melawan, kehilangan harapan dan optimisme; tiba-tiba saja dunia ini menjadi gelap dan kabut keputusasaan menutupi seluruh langit jiwanya. Tidak ada lagi harapan bahwa esok hari akan berganti dan matahari akan terbit kembali. Itulah saat yang paling sublim dalam kehidupan individu atau kelompok, yang dalam hal ini kita harus mampu mengelola perasaan dengan cara yang sangat rumit: kita harus mengakui kekalahan secara obyektif namun tetap memiliki energi jiwa agar survive, bertahan, dan bangkit kembali.

Untuk itu, kita membutuhkan sebuah mizan: sebuah alat atau standar untuk mengukur tingkat supremasi yang sesungguhnya. Mizan yang kemudian ditetapkan Allah Swt adalah iman: bahwa kemenangan dan kekalahan bukanlah ukuran supremasi dan keunggulan; bahwa kemenangan dan kekalahan hanyalah sebuah variabel yang dengannya Allah Swt menguji kita tentang apakah kita tetap bisa beriman dalam kedua situasi itu. Maka, jangan ada kesedihan yang berlebihan dan jangan ada perasan lemah dan tidak berdaya yang akan mematikan semangat perlawanan. Allah Swt berfirman,

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 139)

Pelajaran kedua. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mengetahui kalau kemenangan dan kekalahan itu sesungguhnya bukanlah situasi yang permanen (tetap). Kemenangan dan kekalahan adalah piala yang dipergilirkan oleh sejarah di antara semua umat. Maka, tidak ada umat yang dapat memenangkan semua babak pertarungan, juga tidak ada umat yang ditakdirkan untuk kalah selama-lamanya.

Kemenangan dan kekalahan, sesungguhnya hanyalah sebuah variabel yang menjalankan sebuah fungsi: seleksi. Penyebabnya, andaikan kaum Muslimin menang terus, kata Ibnu Qayyim, maka akan banyak orang yang bergabung dengan kaum Muslimin meskipun mereka tidak benar-benar beriman. Ditambah lagi, andaikan kaum Muslimin kalah terus, maka misi risalah kenabian tentulah tidak akan tercapai.

Begitulah akhirnya, dalam putaran kemenangan dan kekalahan, Allah Swt menyeleksi orang-orang beriman dari orang-orang munafik. Demikian pula dalam putaran kemenangan dan kekalahan, Allah Swt menyingkap tabir pikiran dan jiwa setiap orang: maka semua yang terekam dalam pikiran dan tersimpan dalam jiwa akan tampak nyata di depan mata manakala peristiwa-peristiwa kehidupan memaksanya keluar menjadi tindakan. Allah Swt berfirman,

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (Ali ‘Imran: 140-141)

Pelajaran ketiga. Untuk orang-orang kalah, kemenangan dan kekalahan sesungguhnya merupakan fenomena yang diatur oleh sebuah kaidah. Maka, setiap umat mempunyai hak untuk menang jika mereka memenuhi syarat-syarat kemenangan. Setiap umat pasti kalah jika sebab-sebab kekalahan itu ada dalam diri mereka. Kemenangan dan kekalahan bukanlah nasib yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya. Maka, hal penting bagi mereka yang kalah adalah menemukan penjelasan yang tepat tentang mengapa mereka kalah, bukan melukiskan kekalahan itu secara dramatis, romantis, dan melankolis. Untuk itulah, dibutuhkan keberanian untuk melihat ke dalam lebih banyak, bukan menengok keluar dan melaknat musuh.

Oleh karena itu pula dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesediaan dan tekad yang kuat untuk memperbaiki diri serta memenuhi syarat-syarat kemenangan. Begitulah, Allah SWT kemudian menjadikan sejarah manusia sebagai referensi yang dapat mempertemukan kita dengan syarat-syarat kemenangan atau sebab-sebab kekalahan tersebut. Allah SWT berfirman,

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 138-139)

Jatuh Bangun dalam Ruang Sejarah

Melalui kasus mikro Perang Uhud itu, Allah Swt menetapkan kaidah-kaidah makro yang kemudian mengatur jalannya sejarah manusia. Peristiwa kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan adalah sama dengan peristiwa kebangunan dan keruntuhan dalam perjalanan sejarah. Dengan demikian, apabila ada kaidah yang mengatur kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan, maka ada pula kaidah yang mengatur kebangunan dan keruntuhan setiap umat dan bangsa. Ibarat sunah-sunah yang menjelaskan mekanisme kerja alam raya, seperti itu pulalah kaidah-kaidah tersebut mengatur jalannya sejarah manusia.

Kaidah-kaidah itu adalah buah yang dapat kita petik dari pohon sejarah. Itulah sebabnya, sejarah menjadi salah satu referensi pembelajaran terpenting dalam al-Qur’an. Jika kita membuka lembaran ayat-ayat al-Qur’an, kita akan mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya sejarah adalah tema pokok yang memenuhi ruang terbanyak dalam al-Qur’an. Yang ingin diajarkan al-Qur’an di balik itu adalah bahwa umat ini hanya akan bangkit mencapai kejayaannya apabila ia mengikuti kaidah-kaidah kebangunan tersebut. Sebaliknya, umat ini selamanya akan terpuruk dalam kehancuran manakala ia memenuhi semua kelayakan untuk jatuh dan runtuh.

Demikianlah, bila kemudian kita membaca sejarah Baghdad sebelum dibumihanguskan oleh tentara Tartar, di bawah pimpinan Jenghis Khan, niscaya kita akan membenarkan ungkapan Ibnul Atsir, “Orang-orang Islam ketika itu hidup seperti orang-orang jahiliyah; mimpi-mimpi mereka tidak pernah melampaui perut dan kemaluan mereka.” Sama halnya apabila kita membaca bagaimana Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan al-Aqsha yang dijajah Kaum Salib selama sembilan puluh tahun, niscaya kita akan membenarkan pendapat Dr Majid Irsan al-Kailani, yang mengatakan bahwa generasi Shalahuddin al-Ayyubi sebenarnya hanyalah hasil dari sebuah kerja dakwah dan tarbiyah (pembinaan) yang panjang, yang telah berlangsung lebih dari lima puluh tahun sebelum itu.

Inilah Pertanyaannya

Sekarang, gaung kebangkitan Islam telah menggema di seluruh pelosok negeri, bahkan dunia: generasi baru Islam telah bangun mengumandangkan azan subuh, dan fajar shadiq telah merekah di ufuk timur.

Namun, sejarah tetap menyisakan satu pertanyaan sederhana yang pernah dilontarkan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna, “Saya percaya, saudaraku tercinta, bahwa setiap revolusi sejarah dan setiap kebangkitan pada sebuah umat, berjalan menurut hukum ini, bahkan termasuk kebangkitan agama-agama yang dipimpin para nabi dan rasul-shalawat dan salam untuk mereka semua….” Inilah ucapan yang akan disikapi oleh pembaca dengan dua sikap: sebagian mereka mungkin telah mempelajari sejarah dan tahapan kebangkitan setiap umat sehingga mereka percaya pada kaidah ini, sementara sebagian yang lain belum mempelajari sejarah sehingga sebaiknya mereka mempelajarinya supaya mereka percaya bahwa apa yang saya katakan adalah benar.

Mereka harus percaya karena saya hanya menginginkan perbaikan dalam batas kemampuan saya. Itulah yang terjadi pada setiap kebangkitan yang sukses. Sekarang, apakah kebangkitan kita telah berjalan di atas rel hukum alam dan kaidah sosial ini?

___
Oleh: M Anis Matta

 

Menang! April 9, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr
Tags:

 

12nkijuuuDiatas dan di bawah, dikuasai dan menguasai adalah faktor giliran semata. “Wa tilkal ayamu nudawiluha bainannas”.

Tapi, menang-kalah bukanlah faktor giliran. Tak ada kalah dalam kamus perjuangan seorang mujahid dakwah ilaallah. Ketika seorang muslim berjuang kalimatullah hiya ulya, maka hari-harinya akan terisi oleh kemenangan. Kemarin, hari ini, dan esok adalah kemenangan. Boleh jadi dia luka, di-asing-kan, atau bahkan terbunuh.

Lukanya akan menjadi saksi. Lukanya adalah bintang seperti emblem penghargaan di baju seorang jenderal. Pengasingan adalah pariwisatanya. Pengasingan adalah penyebaran dakwah. Terbunuhnya adalah penghargaan tertinggi, syahid. Disitu dia mendapat kemuliaan, kemuliaan dan surganya.

Umat Islam memiliki sejarah kemenangan yang panjang. Deretan orang-orang perkasa. Pionir dan pembuka daerah. Begitu banyaknya deretan pahlawan, sehingga tak perlu lagi menciptakan tokoh imajinasi atau animasi seperti, Superman, Spiderman atau Batman.

Lihat bagaimana sosok Khalid bin Walid yang tak pernah kalah. Pasukan kecil yang mampu mengalahkan pasukan besar. Baik segi peralatan maupun jumlah. Panglima perang semuda Usamah. Strategi perang dan keberanian Al-Fatih sang penakluk Eropa. Wali Songo mengatur kekuasaan dalam bentuk kerajaan. Hingga Diponegoro yang berjuluk, Amirulmukminin Panotogomo Khalifatullah Tanah Jawi.

Perang Diponegoro sering disebut Perang Jawa. Waktu itu yang menjabat Gubernur Belanda adalah Herman Willem Daendels. Belanda baru saja dikalahkan Napoleon Bonaparte Prancis. Kemudian Inggris berhasil memukul balik lewat Stanford Raffless. Jangan ditanya siapa yang paling kejam: Inggris, Prancis, atau Belanda.

Sebuah naskah Dr. Simuh dari UIN Yogyakarta mengabarkan bahwa Diponegoro mendapat bantuan dan assitensi perang dari Khalifah Turki Utsmani. Kita rindu seperti sajak Chairil Anwar:
Kami rindu kan Tuan
dengan keris di kiri dan berselempang jihad yang tak pernah mati.

Tak mungkin mengalahkan lewat fisik, akhirnya menempuh jalur licik. Diponegoro dibuang ke Tondano. Tapi siapa bisa mengalahkan semangat. Agama menurut orang jawa dalam bahasa kromo inggil adalah agomo. Tapi, dalam tata krama Kromo Hinggil, agama adalah Ageman. Yang harus dipakai. Agama adalah pakaian. Anda bayangkan manusia sehari saja tanpa pakaian? Maka dakwah pun menyebar ke Tondano. Jejak itu jelas terpatri pada kaum Jaton. Jawa Tondano.

Hingga dakwah berlanjut ke masa perebutan kekuasaan antara kaum muslimin dengan penjajah Belanda yang kafir. Ke masa Samanhudi, Tjokroaminoto dan Agus Salim. Pertarungan ideologi terus berlanjut. Hingga ke konsep negara. Laboratorium dakwah sudah pernah mencoba lewat jalur kekuasaan dengan cara militer seperti dijalankan oleh Darul Islam. Lewat jalur parlemen oleh Muhammad Natsir.

Begitulah lembar sejarah mengajarkan: kita adalah barisan orang-orang menang, tidak pernah kalah dan tidak mau mengalah. Meski dipecundangi di era Orla dan ditekan di era Orba, aktivis Islam terus mencari ruangnya. Maka dakwah bawah tanah pun menjadi pilihan.

Era Tanzhimi dilewati berlanjut ke Mihwar Sya’bi. Akhirnya era reformasi menjemput. Duhai kemanakah akal raksasa hati sekeras baja dan langkah perkasa yang tak goyah oleh kilatan pedang, uang dan goyangan perempuan?

Gerakan Islam sempat terjeda oleh isu terorisme. Perang Gaza kembali menyadarkan dunia, bahwa umat Islam tak bisa dikalahkan dengan fisik. Tokh, meski umat Islam seperti anak ayam kehilangan induk. Meski seperti hidangan diatas nampan. Umat Islam tetap tak bisa ditaklukkan. Selalu ada yang melawan.

Meski antar umat Islam sendiri saling cakar-cakaran. Karena masing-masing memiliki kepentingan. Di pentas politik ada Arab Saudi, Mesir, Iran dan Libya yang berebut kepentingan. Di Indonesia masih bingung antara memilih demokrasi sebagai sarana dan menolak sama sekali.

Namun bagi aktivis dakwah sejati, tak ada kamus cuti apalagi kalah. Bisa jadi saat ini dia mendapat cemooh atau hinaan. Bahkan sangat mungkin barisannya compang-camping. Tapi, dakwah akan tetap berjalan. Hingga menemui masa kematangan dan bisa dipetik untuk dinikmati. Saat itulah manusia akan berbondong-bondong kembali masuk ke barisan dakwah.

Dunia saat ini menunggu siapakah yang akan menjadi juru bicara. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar sangat mungkin. Persoalannya adalah negara ini juga memiliki ranking di bidang korupsi dan kemalasan. Inilah yang mengganggu kepercayaan itu.

Maka, masuk ke sebuah barisan yang kokoh dan didalamnya tak henti dengan tausyiah menjadi keharusan. Uzlah belum menjadi pilihan. Berdiri kokoh dalam barisan dan jangan keluar dari medan pertarungan. Maka masuk ke dalam sistem itu, kemudian berputar kencang. Tentu sistem itu akan membawanya ke tempat yang kita tuju.

Hari demi hari Allah pergilirkan. Setelah Barat berkuasa maka pandanglah ke timur. Barat adalah tempat matahari terbenam. Dipenuhi warna abu-abu sebelum gelap. Gelap adalah tempat para setan dan kejahatan mencuri kesempatan.

Sedangkan Timur adalah tempat matahari terbit. Bening embun adalah harapan dari kepingan hati yang tak lelah berdoa. Setitik cahaya akan muncul sebelum akhirnya terang benderang. Saat itu orang yang dulu mencibir akan kembali berbondong-bondong masuk kembali ke barisan dakwah.

Supaya Anda mendapat posisi di dalam barisan. Janganlah Anda bertanya, apakah bagian yang saya terima? Tapi berilah, berkontribusilah. Meski itu hanya sebuah senyuman. Karena tak hanya Anda seorang dunia sedang manunggu. Siapakah juru bicara umat Islam?

Maka pandanglah ke timur.

sumber: sabili

 

Dalam keramaian Kampanye dan kesendirian di 1/3 malam March 31, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Mar
Tags:

 

img-14Dalam menyikapi setiap perkembangan dinamika dakwah, ada tiga hal yang patut dilakukan oleh setiap seorang pejuang dakwah. Yang pertama adalah mengokohkan langkah kaki kita, yang kedua menjaga kebersihan hati kita dan yang ketiga adalah mengoptimalkan fungsi akal dan fikiran sehingga lahir inovasi-inovasi dan kreatifitas dalam rangka mempercepat laju kemenangan dakwah.

Berbeda dengan kaum pengusung ideologi-ideologi sekuler yang semakin besar gerakannya maka semakin kakinya tidak membumi, bagi kita semakin besar sebuah gerakan maka kita semakin mengokohkan langkah kaki dan pondasi gerakan kita, di antaranya dengan semakin intens berhubungan dengan Allah Subhanahuwata’ala”

Hal inilah yang perlu menjadi renungan bagi kita semua,apalagi saat-saat keramian kampanye dakwah dan melambungnya dukungan atas Partai dakwah ini.Keramaian dan kemudahan-kemudahan yang telah diberikan oleh Allah patutlah selalu kita syukuri dalam bentuk pendekatan diri yang lebih intens kepadaNya.

Keramaian akan dukungan dalam setiap kampanye yang dilakukan akan sangat tipis nilainya bila para kader dan pejuang2nya mulai meninggalkan pembaharuan ruhi dengan senantiasa melaksanakan target-target amalan yauminya.

Maka seyogianyalah saudaraku kita senantiasa menjaga hubungan kita denganNya di kesunyian malam..bangunlah dan rasakan kesendirian yang nikmat setelah kepenatan dalam keramaian .Menyendiri dan bermunajat dengan sungguh-sungguh meminta dengan harapan terbesar agar Allah karuniakan kemenangan yang berkah bagi Partai dakwah ini.Kenapa kemenangan yang berkah? karena kemenangan tanpa nilai keberkahan akan membawa petaka,membuat para pejuangnya lupa,karena dunia kini di tangan.Tapi bagaimana dengan kemenangan yang berkah? Itulah kemenangan yang selalu dirindukan orang-orang yang rajin menyendiri di 1/3 malam yaitu saat partai dakwah ini menang,saat itu pula berbondong-bondong para perindu hidayah bergabung,ikut tarbiyah dan mencintai kebaikan hingga partai dakwah ini benar-benar akan merubah peradaban.

Kemenangan berkah bukan sekedar tambah ramainya dukungan tapi hakikat yang dituju oleh patai dakwah ini adalah orang-orang yang selalu menjaga amanah bumi yang telah dilimpahkan Allah kepadanya…maka saudaraku jangan lupakan kesendirian di 1/3 malam dalam riuhnya dukungan kepada Partai dakwah ini.Sesunggunya pijakan partai dakwah ini akan semakin kokoh selagi kader2 dan pejuangnya senantiasa menjaga hubungannya dengan sang penguasa hati yaitu Allah al mulk..yang memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki juga

wallahu a’lam