MUHASABAH CINTA

Ya Allah jadikanlah cintaMU padaku dan cintaku padaMU cukup menjadi hartaku

July 9, 2010

Filed under: Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

Glitter Photos
[Glitterfy.com – *Glitter Photos*]

 

June 6, 2010

Filed under: Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jun

Glitter Photos
[Glitterfy.com – *Glitter Photos*]

 

April 20, 2010

Filed under: Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Apr

Glitter Photos
[Glitterfy.com – *Glitter Photos*]

 

Retak-retak kaca January 30, 2010

Filed under: Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jan

Kupungut serpihan kaca…

kulihat lebih dekat

Kacamu bening tapi jadi tak indah,ujarku

Kupandang wajahku dengan serpihan yang runcing

oh..wajahku terlihat jelek dan menyeramkan

kuambil semua serpihan..

kubingkai dengan kreatif menjadi bunga kaca indah

kupandang…lalu aku bercermin lagi…wajahku kelihatan retak-retak

beginikah aku sebenarnya?

kutata ia dalam vas nya yang nyaman,sambil kutawarkan bunga kaca

kepada pembeli yang menghargai arti sebuah kreasi

Retak-retak kacapun akhirnya berarti…

duduk manis di meja mewah Direktur sebuah Property

Retak-retak kaca…

sesungguhya tidak ada kata terlambat dalam retakmu…

Indonesia,30 Januari 2010

Dalam heningnya inspirasiku….

 

Taubat & kondisi hati October 21, 2009

Filed under: dakwah,halaqoh,Nasehat Rabbani,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Oct

 HATI adalah organ yang paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan oleh Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang. Niat yang ikhlas itu akan diberi pahala oleh Allah.

Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya adalah membabitkan seluruh anggota tubuh badan manusia. Maka, akan lahirlah penyakit masyarakat berpunca dari hati yang sudah rosak itu.

Justeru, hati adalah amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan untuk menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat.

Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana dosa. Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: “Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya.

Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam.” (Hadis riwayat Ibn Majah).

Hadis ini selari dengan firman Allah yang bermaksud “Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka telah diseliputi kekotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan.” (Surah al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman yang bermaksud “Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya.

“Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Baqarah, ayat 74).

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahawa batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah.

Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Perkara yang paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlakulah kemusnahan yang amat besar terhadap manusia.

Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan. Inilah natijahnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati kita. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan oleh Allah pada akhirat kelak.

Persoalannya sekarang, kenapa hati mati? Hati itu mati disebabkan perkara berikut:

Pertama: Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah.

Allah berfirman bermaksud “Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Surah al-Zumar, ayat 22).

Kedua: Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitulah juga hati.

Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya.

Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri.

Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir).

Firman Allah bermaksud “Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah al-Ra’d, ayat 28)

Firman-Nya lagi bermaksud “Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik.” (Surah al-Syura, ayat 88 – 89)

Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
“Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan,
Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu,
Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu,
..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu.”

 

GEMPA DI BUMI RANAH MINANG October 4, 2009

Filed under: Nasehat Rabbani,news,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Oct

gempapa 

Saudarakufillah,

Tanggal 30 September 2009 pukul 17.16  kita semua dikejutkan oleh sebuah berita bahwa terjadi musibah gempa di Padang pariaman sumatra Barat dengan kekuatan 7,6 sk,lebih besar dari gempa di Tasikmalaya.Sungguh sebuah kejadian yang manyayat hati dan memberi duka terdalam bagi mereka yang terkena musibah.sebuah tragedi yang terkadang tidak kita ketahui dengan kuasa Allah bisa terjadi setiap saat,setiap detik,menit,jam..masha Allah semuanya waktu adalah rahasia Allah semata saudaraku.

Mungkin kita merunut kembali rentetan musibah yang terjadi di negri indonesia tercinta,yang sebagian besar penduduknya adalah muslim dan mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang layak disembah.

musibah-musibah yang terjadi mulai dari tragedi stunami di Aceh,gempa di Nias dan gempa pertama di Padang,menyusul kejadian lumpur LAPINDO,yang tak kunjung selesai sampai hari ini,disusul gempa di bantul,gempa di Tasikmalaya dan datanglah musibah gempa di Padang pariaman sumatra barat yang saat ini tercatat sudah lebih dari 800 korban tewas,belum lagi ditemukan yang tertimbun bangunan,bahkan ada 3 desa di pinggir daerah pariaman yang tenggelam ke tanah….astaghfirullah….

 

Saudaraku…

Ada sebuah renungan ketika terjadi gempa di bumi ranah minang,terjadi pada pukul 17 lewat 16 menit,tidak ada salahnya kita merenungi  ayat Allah Al Qur’anul karim surah 17 :16  sesuai dengan jam kejadian gempa di ranah minang,Allah berfirman dalam QS 17:16

“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negri,Maka kami perintahkan kepada orang2 yang hidup mewah di negri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negri itu,maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan) Kami,kemudian Kami hancurkan negri itu sehancur-hancurnya.”

 

Ayat diatas menjadi perenungan yang mendalam saudaraku,betapa Allah ternyata telah memberikan warning agar Dia tidak mendatangkan musibah di negri ini,tetapi kebanyakan manusia bersifat ingkar.Kehidupan ranah minang yang sangat indah sebelumnya kenapa jadi berantakan….negri muslim yang terkenal dengan Adaik basandi syarak,syarak basandi kitabullah…(adat berdasarkan syariat,syariat berdasarkan Kitabullah).Sungguh sebuah kata yang Indah,sebagaimana Aceh yang menyatakan diri sebagai Serambi Mekkah…tapi kenapa justru di tempat yang bersimbol2 Islam dan Islami itu Allah memberikan pelajaran kepada kita,kenapa bukan daerah2 orang kafir,atau daerah-daerah yang sudah jelas kemaksiyatan terang2an  seperti yang terjadi di beberapa daerah.

 

Saudarakufillah yang berada di Ranah minang,

Jangan berkecil hati bukankah bukti kasih sayang Allah itu ukurannya bukan dunia,tapi akhirat masa depan yang kekal.Mungkin bisa menjadi pelajaran dan isntrospeksi diri terhadap apa yang telah di perbuat,mulai dari orang2 kaya sampai yang termiskin sekalipun.

Ada hal-hal yang kecil terkdang bisa saja mendatangkan musibah di negri muslim ini,bisa jadi kita enggan mengeluarkan zakat,infak sedekah,hingga ALlah ambil harta kita dengan cara yang lain,ingat2lah saudaraku mungkin kita pernah menghardik/meninggikan suara kepada ayah ibu kita,mungkin kita pernah menghardik anak yatim piatu,memandang remeh orang2 miskin dan enggan menolong mereka,mungkin kita pernah menghardik para anak2 yang mengamen dijalanan,memandang sinis kepada peminta sumbangan mesjid.

 

Saudarakufillah,

Kebiasaan kita para perantau ranah minang selalu memberikan bantuan membangun mesjid,sementara mesjid yang satu lagi yang sudah jadi kosong tanpa penghuni,sebagaimana pengalaman seorang adik yang hendak sholat di sebuah mesjid di Pariaman tapi terpaksa menunggu di luar,karena seorang ibu menjadi imam makmum karena tidak ada laki2 yang hadir sholat jemaah…memprihatinkan sekali saudaraku.Belum lagi para oknum pemerintah dan pejabat yang suka membuat laporan2 palsu tentang hasil2 kerjanya,suka hidup berfoya2 sementara tetangganya menangis menahan lapar.. 😦

 

Dimanakah nurani kita saat itu saudaraku….

Para muslimah mulai keluar malam tanpa keperluan,pergi berdua-duaan dengan laki2 yang tidakmuhrim,enggan memakai jilbab,menutup aurat,lebih suka bersenang2 dengan teman2 daripada berbakti  dengan ibu bapa yang membesarkannya,perjudian tersembunyi dan minuman keras serta kafe remang2 yang semakin ramai..semua dilakukan demi sebuah kesenangan dan mendapatkan harta dunia…padahal Allah sudah menjamin jika kita bertaqwa maka Allah akan carikan jalan2 keluar dari semua permasalahan kita.

 

Renungilah saudaraku…istighfarlah…..jangan2 kita bagian dari orang2 yang menanam “saham musibah” di negri ini yang juga mengakibatkan penderiataan orang banyak.laki-laki yang diam2 menonton film porno dan melakukan onani,wanita yang melakukan masturbasi untuk kesenangan sesaat,memotong2 bantuan keuangan yang diamanahkan kepadanya,tidak peduli kepada kemaksiyatan yang terjadi di sekelilingnya,acuh dengan fatwa para ulama,bahkan memarahi setiap ada fatwa yang mengatur kehidupannya dan dia tidak suka terhadp itu,menjual dan menyebarkan serta mengkonsumsiVCD2 porno,penipuan,bank2 46 (pinjam 4 bayar 6) yang berkeliaran bebas tanpa gangguan,,,,mencekik leher petani miskin,pedagang kaki lima yang tidak tahu lagi bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya.Semua karena kurangnya keyakinan kepada Allah JIKA KAMU BERTAQWA MAKA ALLAH AKAN MENCARIKAN JALAN2 KELUAR DARI SETIAP MASALAH HIDUP YANG KITA HADAPI” atau jangan2 Al Qur’an karim ini hanya tinggal irama musabaqah saja sementara esensinya tak menyentuh hati kita lagi….istighfarlah saudaraku…astaghfirullah…

Saudaraku..

Istighfarlah ..sesungguhnya ALlah maha pengampun dan penyayang sebesar apapun dosa2 kita,kembalilah kepadaNya yang maha kasih dan sayangnya,yang memberi kita peringatan dikala kita lupa dan bermaksiyat.Kembalilah saudaraku..kita sama2 berbenah..dekatilah orang2 sholeh,mintalah fatwa dari  hati nuranimu sebelum melakukan sesuatu…yakinlah saudaraku Allah selalu bersama kita dalam duka dan ujian2 yang kita hadapai,anggaplah itu sebagai cambuk dari Allah pembuka hati yang selama ini tertutup dan tidak ada furqan didalamnya.

 

Buat saudaraku yang laki2

mulailah menyuburkan Mesjid dengan sholat 5 waktu didalamnya,bermunajat kepada Allah mudah2an Allah akan memberikan keberkahan rezky dan keberkahan bagi anak istri yang di tinggal dirumah….

 

Saudaraku…mari beristigfar minta ampun kepada Allah…

Astagfirullah….

 

Muhasabah menuju Bulan Ramadhan July 29, 2009

Filed under: artikel mini,Uncategorized — akhwatfillah @ 11.30 +00:00Jul

 B
Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini ada bebrapa kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.

Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.

Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ;

Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)

Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.

Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan

Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

 

11. Semakin jarang bershadaqah

 

12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

 

13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

 

15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

 

16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa